Ustadz Muda di Palu Bersatu Sebar Pesan Damai dan Tangkal Propaganda Ekstremis

blog

Ustadz Muda di Palu Bersatu Sebar Pesan Damai dan Tangkal Propaganda Ekstremis

PALU — Puluhan ustadz dan ustadzah muda dari berbagai pesantren di Kota Palu dan sekitarnya berkumpul dalam pelatihan Kontra Narasi Ekstremis bertajuk "Suara Pesantren untuk Perdamaian dan Toleransi". Acara yang digelar pada 21–23 Juli 2026 di Aston Palu Hotel & Conference Center ini bertujuan memperkuat peran pesantren dalam memproduksi konten-konten sejuk untuk memotong rantai penyebaran narasi radikal dan ekstremisme di media sosial.

Kegiatan strategis ini diprakarsai oleh Center for the Study of Religion and Culture (CSRC) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta berkolaborasi dengan Konrad-Adenauer-Stiftung (KAS) Indonesia-Timor Leste dan Pondok Pesantren Putera Alkhairaat Pusat Palu. Langkah ini diambil melihat maraknya propaganda digital yang menyasar generasi muda.

Dalam kesempatan tersebut, Habib Thalib menegaskan bahwa, "Islam ini mengajarkan perdamaian." Pesan singkat namun mendalam ini menjadi pengingat utama bahwa inti ajaran Islam adalah kedamaian dan kasih sayang bagi seluruh alam (rahmatan lil 'alamin).

Menguatkan Tradisi Tabayun di Era Digital

Meskipun situasi keamanan fisik semakin terjaga, ancaman propaganda ideologi radikal lewat internet masih terus mengintai seperti yang dapat kita lihat melalui penangkapan terduga teroris di Palu pada Mei lalu. Oleh karena itu, Dr. Sadri mengingatkan agar insan pesantren tidak memberi ruang sedikit pun bagi paham-paham yang dapat merusak tatanan sosial dan kebangsaan. Ia menyampaikan bahwa, "Pesantren adalah pondasi Islam yang rahmatan lil alamin. Jangan sampai paham-paham ekstremis mempengaruhi kita. Kita hadir di sini untuk mengkontra sebagai perintah Al-Qur'an untuk tabayun."

Menurut Dr. Sadri, menjalankan perintah Al-Qur'an untuk tabayun (mengkonfirmasi dan menyaring informasi) adalah kunci utama agar masyarakat tidak mudah termakan isu provokatif maupun narasi kebencian yang disebar kelompok radikal.

Adapun fokus pelatihan yang dipelajari para ustadz muda meliputi pemahaman nilai damai Islam, pemetaan bahaya ideologi ekstremis, mengenali pola propaganda di media sosial, praktik menyusun pesan tandingan yang sejuk, serta cara menyampaikannya lewat khutbah, ceramah, maupun kelas santri.

Dari Pesantren, Oleh Pesantren, Untuk Pesantren

Sementara itu, dalam sambutannya, Direktur CSRC UIN Jakarta, Dr. Idris Hemay, M.Si., menyampaikan bahwa pesantren memiliki pengaruh sosial yang sangat kuat di tengah masyarakat. Ia menggarisbawahi bahwa, "Pelatihan ini penting bagi pesantren karena pesantren adalah lembaga yang punya pengaruh kuat dan dapat memproduksi agen-agen penyebar toleransi dan perdamaian. Jadi program ini dari pesantren, oleh pesantren dan untuk pesantren."

Dr. Idris berharap para peserta pelatihan dapat menjadi agen perubahan yang aktif menyebarkan pesan-pesan toleransi, baik melalui mimbar ceramah, ruang kelas, hingga konten kreatif di media sosial. Dengan begitu, pesantren terus menjadi benteng yang kokoh bagi perdamaian dan keutuhan bangsa.

Linkage