Pelatihan Kontra Narasi Ekstremisme Digelar di Makassar, Libatkan Ustadz dan Ustadzah Muda Pesantren

blog

Makassar, 23 April 2026 — Upaya pencegahan penyebaran ideologi ekstremisme terus diperkuat melalui pendekatan narasi damai. Hal ini diwujudkan dalam kegiatan pelatihan bertajuk “Kontra Narasi Ekstremis: Suara Pesantren untuk Perdamaian dan Toleransi” yang berlangsung pada 21–23 April 2026 di The Rinra Hotel Makassar.

Kegiatan ini diselenggarakan oleh Center for the Study of Religion and Culture (CSRC) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta bekerja sama dengan Konrad-Adenauer-Stiftung (KAS) Indonesia-Timor Leste serta Pondok Pesantren An-Nahdlah Makassar. Pelatihan ini diikuti oleh 20 ustadz dan ustadzah muda dari berbagai pesantren di Kota Makassar dan sekitarnya.

Direktur CSRC UIN Jakarta, Dr. Idris Hemay,M.Si dalam sambutannya menyampaikan, “Peserta pelatihan hari ini diharapkan dapat mengcounter narasi-narasi ekstremisme yang beredar di masyarakat maupun media digital.” Ia juga menegaskan bahwa pesantren memiliki peran penting dalam mempromosikan perdamaian dan toleransi melalui program Kontra Narasi Ekstremis.

Sementara itu, Pengasuh Pondok Pesantren An-Nahdlah Makassar, Prof. Dr. KH. Afifuddin Harish, menyampaikan bahwa program ini diharapkan dapat terus berlanjut dan tidak berhenti hanya di Makassar. “Pelatihan seperti ini akan meningkatkan pengetahuan dan keterampilan ustadz/ustadzah pesantren dalam menyebarkan nilai-nilai damai dalam Islam, baik untuk masyarakat luas maupun kalangan pesantren sendiri,” ujarnya.

Pelatihan ini dilatarbelakangi oleh perubahan pola penyebaran ekstremisme yang kini semakin bergeser ke ranah digital. Jika sebelumnya aktivitas radikalisasi banyak terjadi melalui pertemuan langsung, kini propaganda lebih banyak disebarkan melalui media sosial dan platform digital terenkripsi. Fenomena ini membuat generasi muda, khususnya kalangan pelajar dan mahasiswa, menjadi kelompok yang rentan terpapar.

Selain itu, meskipun Indonesia sempat mencatatkan kondisi zero terrorist attack pada tahun 2023, aparat keamanan masih menemukan dan menangkap sejumlah terduga teroris hingga tahun 2025. Di wilayah Sulawesi Selatan sendiri, aktivitas ekstremisme juga terdeteksi melalui penyebaran konten propaganda yang memanfaatkan isu-isu lokal dan dikemas secara menarik, bahkan menyerupai tampilan visual gim untuk menarik perhatian generasi muda.

Materi pelatihan mencakup pemahaman tentang nilai-nilai damai dalam Islam, pengenalan ideologi ekstremis, analisis narasi ekstremisme, hingga praktik menyusun kontra narasi yang efektif. Para peserta juga dibekali keterampilan untuk menyampaikan pesan-pesan damai melalui ceramah, khutbah, maupun pembelajaran di kelas.

Melalui kegiatan ini, diharapkan para ustadz dan ustadzah muda mampu menjadi agen perubahan di lingkungan masing-masing. Selain itu, pelatihan ini juga bertujuan membangun jejaring antar pesantren guna memperkuat kolaborasi dalam mencegah penyebaran ekstremisme.

Dengan melibatkan pesantren sebagai lembaga pendidikan berbasis nilai, program ini diharapkan dapat memperkuat ketahanan sosial masyarakat sekaligus meneguhkan peran agama sebagai sumber perdamaian dan toleransi di tengah tantangan era digital.

Linkage