Khutbah 1
إِنَّ الْحَمْدَ لِلّٰهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللّٰهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللّٰهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ
وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. أَمَّا بَعْدُ
فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ، أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللّٰهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ اللّٰهُ تَعَالَى: يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. وَقَالَ تَعَالَى: يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ مِّنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ، وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا، وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيْرًا وَنِسَاءً، وَاتَّقُوا اللّٰهَ الَّذِيْ تَسَاءَلُوْنَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ، إِنَّ اللّٰهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا.
Amma ba’du,
Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,
Marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah SWT dengan komitmen penuh menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Ketakwaan bukan sekadar ucapan, tetapi ketakwaan juga harus terwujud dalam sikap hidup yang adil, bijaksana, dan penuh tanggung jawab. Termasuk wujud ketakwaan, menyikapi dinamika kehidupan dunia dewasa ini yang penuh tantangan dan ketidakpastian.
Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,
Dunia hari ini diwarnai oleh berbagai konflik yang mengiris perasaan kita: peperangan, krisis kemanusiaan, ketimpangan ekonomi, kerusuhan sosial, dan ketegangan politik. Imbas konflik tidak hanya menghancurkan bangunan fisik dan hilangnya nyawa, tetapi juga berakibat pada hancurnya dan hilangnya peradaban, nilai kemanusiaan, dan kedamaian hidup manusia.
Peperangan yang masih berlangsung hingga tahun ini terutama perang di Timur Tengah yang melibatkan Amerika Serikat-Israel melawan Iran, eskalasi konflik tidak hanya berdampak pada negara kawasan di Timur Tengah, tetapi berpengaruh pada stabilitas ekonomi, politik, dan sosial negara-negara lain yang jauh. Termasuk negara kita Indonesia. Dalam situasi seperti ini, umat Islam sering dihadapkan pada pertanyaan: bagaimana seharusnya kita bersikap?
Islam sebagai agama cinta (rahmat), tidak hanya mengatur hubungan vertikal antara hamba dengan Tuhannya. Tetapi Islam juga mengatur hubungan horizontal antara manusia dengan manusia lainnya. Keseimbangan hubungan dua arah ini menjadi dasar kehidupan yang damai. Keseimbangan ini apabila berhasil dicapai menghasilkan kehidupan sosial yang diliputi “rahmatan lil alamin”, sebagaimana firman Allah SWT dalam Al-Qur’an:
وَمَآ اَرْسَلْنٰكَ اِلَّا رَحْمَةً لِّلْعٰلَمِيْنَ
“Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad), melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam.” (QS. Al-Anbiya: 107)
Ayat ini menegaskan bahwa misi kenabian bersifat universal. Nabi Muhammad diutus untuk membawa rahmat, kedamaian, dan ketertiban bagi seluruh umat manusia, tanpa memandang agama, suku, ras, atau kelompok tertentu. Dalam al-Qur’an, kata rahmah sangat sering disebutkan dan tersebar di berbagai surat dalam al-Qur’an.
Ibnu Faris, seorang ahli bahasa Arab klasik, dalam kitabnya, Maqayis al-Lughah, menyebut kata “rahmah” mengandung makna “kelembutan”, “kehalusan”, dan “belas kasih”. Ar-Raghib al-Ashfahani dalam al-Mufrodat fi Gharibil Qur’an menyatakan hal yang sama. Kata rahmah menurutnya mengandung arti “kelembutan” dan sikap kasih-sayang.
Karena itu, rahmah atau kasih sayang mesti diwujudkan sebagai bukti manusia adalah makhluk yang mulia. Rahmat-kasih sayang mesti dibumikan karena manusia bukanlah binatang. Apapun masalah dan konflik yang dihadapi sesama manusia hendaknya diselesaikan dengan mengedepankan nilai-nilai rahmah: kesantunan dan kasih sayang. Dalam hal ini, Allah SWT berfirman:
اِنَّمَا الْمُؤْمِنُوْنَ اِخْوَةٌ فَاَصْلِحُوْا بَيْنَ اَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللّٰهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُوْنَ ࣖ
“Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, karena itu damaikanlah kedua saudaramu (yang bertikai) dan bertakwalah kepada Allah agar kamu dirahmati.” (QS. Al-Hujurat: 10)
Ayat ini menunjukkan bahwa Islam menempatkan perdamaian sebagai prioritas utama. Hal ini selaras dengan pengertian kata “muslim” itu sendiri. Rasulullah bersabda bahwa seorang muslim adalah orang yang memberi keselamatan dan kenyamanan bagi kehidupan orang lain, sebagaimana hadits Nabi:
Dari Abdullan bin Umar ra. Rasulullah SAW bersabda:
الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُوْنَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ، وَالْمُهَاجِرُ مَنْ هَجَرَ مَا نَهَى اللّٰهُ عَنْهُ
“Yang disebut dengan muslim sejati adalah orang yang memberi keselamatan bagi muslim lainnya dari bahaya lisan dan tangannya. Dan orang yang berhijrah adalah orang yang berhijrah dari perkara yang dilarang oleh Allah .” (HR. Bukhari no. 10 dan Muslim no. 40).
Hadis ini menegaskan bahwa prinsip dasar dalam Islam adalah tidak menyakiti, baik secara verbal, maupun secara perilaku. Maka, bagaimana mungkin seseorang disebut muslim, tapi saat bersamaan menyokong kekacauan, kekerasan, dan ketidakadilan?
Jamaah Jumat Rahimakumullah,
Para ulama besar telah lama membahas pentingnya ketertiban dunia (al-nizham al-‘alami). Imam Al-Ghazali, misalnya, menegaskan bahwa ketertiban dunia mensyaratkan akhlak dan kekuasaan yang amanah. Akhlak dan kekuasaan adalah dua hal yang saling melengkapi. Akhlak menjadi fondasi kekuasaan, sedangkan kekuasaan berfungsi menjaga berjalannya akhlak.
Ibnu Khaldun, dalam teori sosialnya, menegaskan pentingnya solidaritas politik atau ‘ashabiyyah. Dengan solidaritas politik manusia dapat mencipta peradaban yang gilang gemilang. Namun, dia mengingatkan solidaritas politik tanpa moral dan akhlak akan berujung pada konflik. Konflik politik jika tidak dikelola seringkali menimbulkan kekacauan dan anarki. Tanpa moral dan akhlak, peradaban akan hancur. Tanpa moral dan akhlak sebuah bangsa akan binasa.
Para pemeluk agama, tidak hanya agama Islam, sudah saatnya bersatu-padu menyuarakan pentingnya bangsa-bangsa dan umat manusia kembali menegaskan peran akhlak dan moral. Khususnya di masa-masa kini, di mana politik global diwarnai konflik dan permusuhan yang mengatasnamakan agama. Al-Qur’an mengingatkan kepada Muslim dan para pengikut Ahlul Kitab untuk menegakkan platform yang sama: sebuah “kalimatun sawa”. Al-Qur’an menegaskan umat beragama untuk mengenyampingkan perbedaan. Umat beragama seharusnya bersama-sama memperjuangkan nilai-nilai damai dan kasih-sayang yang merupakan ajaran kemanusiaan yang universal.
Allah SWT berfirman:
اُدْعُ اِلٰى سَبِيْلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِيْ هِيَ اَحْسَنُۗ اِنَّ رَبَّكَ هُوَ اَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيْلِهٖ وَهُوَ اَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِيْنَ
“Serulah (manusia) ke jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik serta debatlah mereka dengan cara yang lebih baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang paling tahu siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dia (pula) yang paling tahu siapa yang mendapat petunjuk” (QS. An-Nahl: 125).
Hikmah di sini berarti kebijaksanaan dalam bertindak, mempertimbangkan dampak, serta mengedepankan kemaslahatan. Sehingga, dalam menghadapi konflik global, umat Islam harus menghindari tiga sikap ekstrem:
- Sikap apatis, tidak peduli terhadap penderitaan manusia.
- Sikap reaktif tanpa ilmu, mudah terprovokasi oleh informasi yang belum tentu benar.
- Sikap radikal, yang justru memperkeruh keadaan.
Islam mengajarkan sikap wasathiyah (moderat), yaitu keseimbangan antara kepedulian dan kebijaksanaan. Ini menunjukkan bahwa dalam Islam, kemenangan sejati bukan hanya soal kekuatan, tetapi juga tentang strategi, kesabaran, dan visi jangka panjang.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْاٰنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْاٰيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ اللهُ منِّيْ وَمِنْكُمْ تَلاَوَتَهُ إِنّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ، أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ، لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ, فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمِ
Khutbah 2
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ، اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ حَمْدًا كَثِيْرًا كَمَا أَمَرَ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، وَعَلَى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. أَمَّا بَعْدُ،
عِبَادَ اللّٰهِ، أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللّٰهِ، فَاتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقَاتِهِ، وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ، كَمَا قَالَ اللّٰهُ تَعَالَى: يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقَاتِهِ، وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللّٰهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، فَقَالَ تَعَالَى: إِنَّ اللّٰهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى مُحَمَّدٍ، وَعَلَى اٰلِهِ وَصَحْبِهِ وَالتَّابِعِيْنَ أَجْمَعِيْنَ، بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.
اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ. رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِالْإِيْمَانِ، وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوْبِنَا غِلًّا لِلَّذِيْنَ اٰمَنُوْا، رَبَّنَا إِنَّكَ رَؤُوْفٌ رَحِيْمٌ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا، وَإِنْ لَّمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ الْخَاسِرِيْنَ. رَبَّنَا اٰتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْاٰخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. وَصَلَّى اللّٰهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى اٰلِهِ وَصَحْبِهِ، وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. وَ اٰخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.
عِبَادَ اللّٰهِ، إِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُكُمْ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ، وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى، وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللّٰهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللّٰهِ أَكْبَرُ.
Suparto, S.Ag., M.Ed., Ph.D., Wakil Ketua Majelis Tabligh PP Muhammadiyah dan Sekretaris Direktorat Jenderal Pendidikan Vokasi, Pendidikan Khusus, dan Pendidikan Layanan Khusus
Editor: Irfan Abubakar, MA. dan Dr. Idris Hemay, M.Si.