Literasi Keagamaan Takmir Masjid, Imam, dan Khatib (Seri Convey Report)

8 Feb 2019 1.088 views

Literasi Keagamaan Takmir Masjid, Imam, dan Khatib (Seri Convey Report)

 

Penelitian ini berfokus pada potret literasi keagamaan di masjid-masjid di tujuh kota yakni: Jakarta, Banda Aceh, Palembang, Garut-Tasikmalaya, Manado, Ambon, dan Mataram, dalam kaitannya dengan moderasi Islam. Tema-tema yang dimunculkan dalam penelitian ialah toleransi (antaragama dan intra umat Islam), perdamaian, dan anti-kekerasan, yang lazim disarikan dari ajaran al-Quran sendiri: Islam rahmatan lil alamin (Islam sebagai agama yang penuh kasih kepada semua). Ajaran tersebut sangat popular dan mudah dipahami. Namun dalam implementasinya, seperti terbaca dari hasil penelitian ini, para takmir tidak selalu memiliki wawasan untuk menerjemahkan ajaran tersebut ke dalam aktivitas literasi keagamaan mereka.

 

Penelitian ini menemukan bahwa literasi keagamaan di masijid-masjid masih bercorak konvensional, yaitu dalam media pengajian, khutbah, dan ceramah. Begitu pula muatannya yang secara garis besar mengarah ke pengajaran akidah dan ikih dalam arti konvensional. Yakni, untuk kebutuhan praktik ibadah sehari-hari. Jarang sekali ditemukan literasi keagamaan yang secara khusus mengarah kepada syiar atau dakwah Islam
rahmatan lil alamin. Berbagai kegiatan semisal khutbah, ceramah, dan pengajian, pada umumnya berjalan apa adanya. Dalam arti tidak dirancang secara khusus untuk mempromosikan Islam rahmatan lil-’alamin.

 

Literasi keagamaan yang berkaitan dengan masalah hablun minannas (hubungan horizontal sesama manusia) lebih banyak didominasi oleh tema ukhuwah Islamiyah, dan sedikit yang terkait dengan ukhuwah wathaniyah (persaudaraan kebangsaan). Tema-tema kebangsaan seperti soal NKRI, Pancasila, Kebhinekaan, kerap disampaikan melalui kegiatan ceramah, tapi tidak menjadi silabus resmi. Begitu juga tema-tema hubungan antaragama seperti pentingnya toleransi, penghargaan terhadap perbedaan, dan anti-kekerasan, hanya menjadi tema-tema yang lepas. Dalam arti, diserahkan kepada kreativitas para penceramah.

 

Literasi keagamaan di masjid-masjid tidak menjadi perhatian khusus dari kantor Kementerian Agama maupun Dewan Masjid Indonesia. Maka manajemen literasi keagamaan berjalan secara apa adanya nyaris tanpa pembinaan yang memadai. Salah satu sarana penunjang literasi keagamaan, yakni perpustakaan, tidak ditemukan di masjid-masjid yang diteliti, kecuali pada satu dua masjid saja. Pola perekrutan narasumber penceramah/khatib biasanya melalui rapat pengurus atau membicarakan dengan dewan penasihat masjid. Tidak jarang rapat mencoret nama tertentu yang diajukan berdasarkan sejumlah pertimbangan, misalnya karena penceramah khatib tersebut berkecenderungan radikal. Penelitian ini menemukan bahwa masjid-masjid pada umumnya menolak isu-isu politik dibawa ke masjid karena akan memecah-belah umat. Para takmir juga memiliki peraturan tidak tertulis bahwa para penceramah atau khatib tidak boleh membahas satu madzhab tertentu, tidak boleh berbicara SARA, dan tidak boleh menghujat kelompok atau agama lain.

Selengkapnya dapat didownload di bawah ini:

Download (52810.87 KB)

KOLOM DIREKTUR