MENGUAK RAHASIA DI BALIK SYIAR IDUL ADHA

12 Agu 2019 218 views

MENGUAK RAHASIA DI BALIK SYIAR IDUL ADHA

MENGUAK RAHASIA DI BALIK SYIAR IDUL ADHA

(Khutbah Idul Adha 1440 H/2019M)

Oleh Irfan Abubakar, MA

Peneliti Senior CSRC UIN Jakarta

Dosen Fakultas Adab dan Humaniora UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

 

 

Khutbah I


اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ. اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ. اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ. اَللهُ أَكْبَرْ كَبِيْرًا وَالْحَمْدُ للهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلاً، لاَإِلهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ وَللهِ اْلحَمْدُ

 

الحمدُ لله الذي بنعمته تتمُّ الصالحات، وبعَفوِه تُغفَر الذُّنوب والسيِّئات، وبكرَمِه تُقبَل العَطايا والقُربَات، وبلُطفِه تُستَر العُيُوب والزَّلاَّت، الحمدُ لله الذي أماتَ وأحيا، ومنَع وأعطَى، وأرشَدَ وهدى، وأضحَكَ وأبكى؛ ﴿ وَقُلِ الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي لَمْ يَتَّخِذْ وَلَدًا وَلَمْ يَكُنْ لَهُ شَرِيكٌ فِي الْمُلْكِ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ وَلِيٌّ مِنَ الذُّلِّ وَكَبِّرْهُ تَكْبِيرًا ﴾ (الإسراء: 111).

 

أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى بِقَوْلِهِ وَفِعْلِهِ إِلَى الرَّشَادِ. اللّهُمَّ صَلّ وسّلِّمْ علَى عَبْدِكَ وَرَسُوْلِكَ مُحَمّدٍ وِعَلَى آلِه وأصْحَابِهِ هُدَاةِ الأَنَامِ في أَنْحَاءِ البِلاَدِ. أمَّا  بعْدُ، فيَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا اللهَ تَعَالَى بِفِعْلِ الطَّاعَاتِ

فَقَدْ قَالَ اللهُ تَعَالىَ فِي كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ. فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْإِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْأَبْتَرُ.

و قال أيضا فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا ۚ فِطْرَتَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا ۚ لَا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللَّهِ ۚ ذَٰلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ (30)(سورة الروم)

 

Hadirin dan hadirat Sidang Idul Adha yang berbahagia!

 

Pagi ini kaum Mukminun di seantero Indonesia dan sebagian wilayah di dunia tengah merayakan kembali Syiar keagamaan tahunan kita, yaitu Idul Adha atau Idul Kurban. Kita semua bersuka cita karena dapat merayakan kembalinya momentum ruhaniyah yang mengandung makna yang dalam bagi eksistensi keimanan kita para pengikut Risalah Muhammadiyah. Kita semua bersuka cita mengenang peristiwa ikonik dalam sejarah umat manusia, yaitu peristiwa penyembelihan kurban yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim AS dan putranya Nabi Ismail AS. Khatib pribadi mengajak kita semua yang hadir di tempat yang mulia ini untuk kembali memahami, meresapi, dan menghayati hikmah ilahiyah-insaniyah di balik perayaan Idul Adha yang mulia ini. Ini semua bertujuan agar kita yang hidup di era milenial ini dapat kembali mengisi ulang “battery” ruhaniyah kita sehingga tetap menyala dan aktif dalam menuntun orientasi kehidupan sosial kita selaras dengan ajaran Tanzil al-Hakim, Al-Qur’an al-Kariem.

 

Allahu Akbar 3X, Walillahi al-Hamd!

 

Hadirin dan hadirat jamaah Idul Adha yang dimuliakan Allah!

 

Idul Adha pertama-tama mengingatkan kepada kita semua bahwa Allah Rabbul Alamien telah memberikan kepada manusia rezeki yang berlimpah bukan hanya dalam bentuk kebaikan alam (khairat al-thabi’ah), tapi juga dalam bentuk kreasi tangan kita sendiri (ma amilat aidihim). Berkah rahmat Allah, langit di setiap musimnya tidak pernah bosan menurunkan hujan yang tumpah ke permukaan tanah untuk menghidupkan bumi yang sebelumnya mati. Dari air hujan lah tumbuh-tumbuhan dan hewan memperoleh kehidupan dan pertumbuhan guna menyediakan bagi manusia berbagai kebutuhan nutrisi sehingga dengannya mereka dapat terus melestarikan eksistensinya dan menjalankan fungsinya memakmurkan bumi. Allah secara khusus menunjukkan fakta alamiyah ini dalam al-Qur’an dengan tujuan mengingatkan agar kita manusia pandai bersyukur. Dalam Surat Yasin yang rutin kita baca Allah berfirman:

 

وأية لهم الأرض الميتة أحييناها و أخرجنا منها حبا فمنه يأكلون33 و جعلنا فيها جنات من نخيل و أعناب و فجرنا فيها من العيون34 ليأكلوا من ثمره و ماعملته أيديهم أفلا يشكرون35

 

Artinya: Dan suatu tanda bagi mereka adalah bumi yang sebelumnya mati, Kami hidupkan kembali dan Kami keluarkan darinya biji-bijian, maka darinya mereka makan. Dan Kami jadikan di bumi itu kebun-kebun kurma dan anggur dan Kami pancarkan padanya  mata air-mata air, supaya mereka dapat makan dari hasil bumi, dan dari apa yang diusahakan oleh tangan mereka sendiri. Maka mengapa mereka tidak mau bersyukur? (QS Yasin 33-35)

 

Kesadaran untuk bersyukur atas limpahan rezeki ini semakin diperlukan manusia yang hidup di era milenial ini. Mengapa demikian? Dewasa ini kemampuan produktifitas dan kreatifitas manusia telah sampai pada fase yang tak terbayangkan sebelumnya, yaitu fase yang biasa disebut dengan revolusi industri 4.0 dimana manusia telah mampu menghasilkan kebutuhannya secara massal namun efisien. Penemuan internet telah menjadikan mesin seolah-olah bernyawa dan mampu berpikir cerdas. Mesin komputer dapat menyimpan, menyusun, mengelola, menghitung, serta menganalisis jutaan dan bahkan milyaran informasi. Dengan cara seperti itu mesin komputer dapat membantu manusia memutuskan dengan super cepat apa yang baik baginya dengan tingkat akurasi yang tinggi. Fakta yang fenomenal terjadi di dunia pengobatan dan kedokteran. Internet of things dan perangkat mesin, telah terhubungkan dengan tubuh manusia melalui data sensor, kesemua elemen itu kini dapat berkomunikasi satu sama lain, sehingga diagnosa penyakit dan penentuan obatnya langsung dilakukan oleh komputer secara cepat dan akurat.  Fakta lain yang hampir lumrah sekarang ini tengah kita alami sendiri, khususnya di bidang tranportasi dan transaksi jual beli.  Sekarang semuanya serba mudah dan instan. Mau makan makanan kesukaan tinggal pencet tombol di smart phone, klik Go-Food di aplikasi, dalam waktu beberapa menit makanan kesukaan telah hadir di depan pintu rumah. Semuanya serba cepat, mudah dan satu lagi, murah.

 

Namun demikian, yang mungkin kurang kita insafi Revolusi Industri 4.0 ini memberikan dampak yang fundamental, yakni manusia milenial makin berorientasi pada hasil akhir, namun kurang memiliki kepekaan terhadap proses. Tidak kah kita merasakan sendiri bahwa kita mulai lupa menghayati proses produksi dan kosumsi yang kita jalani? Dulu waktu kecil, diantara kita masih terbiasa mengalami dan menyaksikan sendiri bagaimana biji-bijian, hasil tanaman, dan daging hewan dan unggas, diolah oleh ibu di rumah, lalu dimasak dan akhirnya disuguhkan kepada anggota keluarga. Kita terbiasa menghirup harumnya aroma masakan ibu hingga sampai ke halaman rumah. Lebih dari itu, kita diajarkan untuk mengiringi peralihan satu aktivitas ke aktivitas lain dari proses produksi dan konsumsi tersebut dengan mengucapkan “alhamdulillah”, yang berarti segala puji bagi Allah. Ungkapan “alhamdulillah” yang mengiringi aktivitas itu, kedengarannya biasa saja. Namun hakikatnya ungkapan itu sungguhlah dalam maknanya. Dengan mengucapkan “alhamdulillah” pada dasarnya kita sedang menghidupkan suatu jaringan suci (sacred network) dengan cara memadukan aktivitas yang kita lakukan, hasil alam yang kita olah, serta kesadaran yang terbit di hati kita, lalu kita koneksikan semuanya ke Sumber dari Segala Sumber Energi yang menciptakan semua itu, yaitu Rabbul Alamien, Tuhan seru sekalian alam. Kontras dengan hari ini, kalau pun mengucapkan “al-hamdulillah”, paling kita ucapkan di ujung, ketika pesanan kita sampai di depan rumah. Itu pun kalau kita ingat! Mari kita bandingkan kira-kira mana diantara kedua proses bersyukur tadi yang menghasilkan daya ruhaniyah yang lebih kencang dan bertahan lama?

 

Subhanallah, hendaklah kita tidak lalai bersyukur dengan menyebut nama Allah di setiap proses produksi dan konsumsi! Tidak ada ruginya, justru Allah menjanjikan kesucian, keberuntungan dan kemenangan:

 

قد أفلح من تزكي وذكر اسم ربه فصلي

 

Artinya: “Beruntunglah mereka yang menyucikan dirinya, mengingat nama Tuhannya, lalu terpaut hatinya dengan Allah.  

 

Allahu Akbar 3X, Walillahi al-Hamd!

 

Hadirin yang dirahmati Allah,

 

Sudah menjadi takdir kita untuk hidup di sebuah zaman yang ditandai dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan kecanggihan teknologi. Kita tidak mungkin  kembali ke belakang di zaman dimana kehidupan serba alamiyah, dan meninggalkan dunia serba teknologi ini. Hal ini mustahil dan tidak perlu. Namun demikian, yang harus selalu diingat bahwa betapapun kemajuan teknologi, kita tetap akan tergantung kepada kebaikan alam (khairat al-tabi’ah) yang menyediakan untuk kita limpahan nutrisi nabati dan hewani yang tanpanya mustahil kita bisa hidup secara berkelanjutan di muka bumi ini. Karena itu, kita tidak perlu merasa pongah hati dengan kecanggihan teknologi yang telah kita capai karena kepongahan itu dapat membuat kita lupa diri dan tidak menyadari bahwa apa yang diberikan alam dan apa yang dihasilkan oleh kreasi tangan kita pada totalitasnya merupakan makhluk Allah, meskipun kita tidak menyadarinya. Allah berfirman:

 

و الله خلقكم وما تعملون (سورة الصافات: 96)

 

Artinya: “Allah telah menciptamu dan apa saja yang engkau lakukan”

 

 

Hadirin Sidang Idul Adha yang berbahagia,

Bersyukur dengan cara mendekatkan diri kepada Allah merupakan esensi dari Idul Qurban yang kita rayakan hari ini. Kata “Qurban” dalam bahasa Arab berasal dari akar kata Qariba-Yaqrabu-Qurbanan yang berati “mendekat kepada sesuatu”. Sedangkan secara istila kata “Qurban” dalam kamus Arab mengacu kepada:   كل ما يتقرب به إلي الله عز و جل من ذبيحة و غيرها (Apa saja yang mendekatkan manusia dengan Tuhan berupa sembelihan atau yang lainnya). Kata “Qurban” di dalam al-Qur’an muncul dalam Surat al-Maidah Ayat 27, dimana Allah berfirman:

 

وَاتْلُ عَلَيْهِمْ نَبَأَ ابْنَيْ ءَادَمَ بِالْحَقِّ إِذْ قَرَّبَا قُرْبَانًا 

 

Artinya: “Dan bacakanlah (wahai Muhammad) kepada mereka dengan sebenarnya cerita tentang kedua putra Adam tatkala mereka mempersembahkan qurbannya kepada Allah”

 

Dari ayat ini kita diinformasikan oleh Rabbul Alamien bahwa “qurban” dalam artian sembelihan dan yang lainnya telah ada sejak zaman purba, sejak masa Nabi Adam ketika kedua putranya, yaitu Habil dan Kabil, mendekatkan diri kepada Allah dengan mempersembahkan rezeki yang mereka peroleh dari kebaikan alam. Setelah periode Nabi Adam berlalu, entah ribuan tahun lamanya, praktik mempersembahkan kurban kepada Tuhan terus dijalankan manusia. Namun lambat laun telah mengalami perubahan. Makin lama perubahannya makin ekstrem dan makin menjauh dari hakikat berkurban dan tabiat insaniyah serta rasa kemanusiaan. Seiring dengan itu, manusia lambat laun terjerumus ke dalam kesesatan praktik syirik, menyekutukan Allah dengan sesembahan lain selain Allah. Sejak itu kurban berupa hasil alam tidak lagi sepenuhnya dipersembahkan kepada Allah semata, tapi telah dibagi Allah dan juga kepada alihah, sesembahan-sesembahan selain Allah.

 

Pada titik yang ekstrem, tidak jarang manusia rela mengorbankan tubuh manusia lainnya untuk dipersembahkan kepada tuhan-tuhan (alihah) selain Allah. Praktik ini muncul dari sebuah prasangka bahwa ketika manusia ditimpa bencana alam, seperti sungai yang meluapkan banjir, masa kekeringan yang panjang, hasi panen yang gagal, dsb. mereka menyangka Tuhan telah murka kepada mereka dan meminta kurban yang lebih besar dari sekadar hewan dan tanaman. Maka mereka pun mempersembahkan tubuh anak-anaknya untuk dikorbankan agar para alihah (dewa-dewa) menghentikan banjir, menurunkan hujan, menyuburkan dan memperbaiki hasil panen. Dokumen sejarah kuno menunjukkan praktik penyembelihan manusia sebagai qurban berlangsung pada zaman Babilonia ribuan tahun silam. Mereka tidak saja menyembelih, tapi juga membakar hidup-hidup. Kitab Taurat mengisahkan bagaimana pengikut Bani Israil yang terperosok kepada kemusyrikan mendirikan Mahariq yaitu bangunan tinggi sebagai tempat pembakaran anak-anak kurban persembahan kepada para alihah. Dikisahkan selama proses pembakaran ditabuhlah gendang dan alat-alat tabuh dan dibunyikanlah bunyi-bunyian agar teriakan anak-anak yang tengah sekarat dipanggang pembakaran tidak sampai terdengar oleh sanak familinya yang tentu saja tidak akan tega mendengar jeritan itu. Allah dalam al-Qur’an menyebut pembunuhan anak-anak yang dijadikan kurban sebagai cara setan mengelabui kebanyakan kaum musyrikin agar meyakini bahwa tindakan itu cara yang benar untuk mendekatkan diri kepada Allah. Padahal tindakan itu perbuatan keji yang mengada-ngada belaka. Allah berfirman:

 

وكذلك زين لكثير من المشركين قتل أولادهم شركاؤهم ليردوهم وليلبسوا عليهم دينهم ولو شاء الله ما فعلوه فذرهم وما يفترون (سورة الأنعام 137)

Artinya: “Dan demikianlah para sekutu mereka (setan) telah menjadikan kebanyakan dari orang-orang musyrik itu memandang baik pembunuhan anak-anak mereka sendiri, dengan tujuan untuk membinasakan mereka dan untuk mengaburkan bagi mereka agamanya. Dan kalau Allah menghendaki, niscaya mereka tidak melakukan perbuatan itu, maka tinggallah mereka dan apa yang mereka ada-adakan.”

Allahu Akbar 3X Walilllahi al-Hamd!

Peristiwa penyembelihan anak laki-laki sebagai kurban telah disaksikan sendiri oleh Nabi Ibrahim AS ketika masih menetap di Babilonia yang saat itu dikuasai oleh Raja Namrud, seorang penguasa zalim yang dalam al-Qur’an dikecam karena telah menuhankan dirinya. Peristiwa yang sama juga disaksikan beliau ketika berhijrah ke Tanah Makkah dari Negeri Mesir dimana beliau menikahi Siti Hajar yang kelak melahirkan Nabiyyuna Ismail AS. Di Tanah Makkah Nabi Ibrahim menyaksikan sendiri bagaimana tubuh manusia disembelih untuk dijadikan kurban kepada para alihah (tuhan-tuhan selain Allah). Nurani seorang Ibrahim tidak bisa menerima praktik semacam itu. Ibrahim sebagaimana dikisahkan Allah dalam al-Qur’an dikenal karena pendiriannya yang hanif. Nabi Ibrahim bahkan dijuluki sebagai Imamul Hunafa (pemimpin bagi orang-orang yang hanif). Dalam al-Qur’an diceritakan bahwa Kaum Yahudi dan Kaum Nasrani bersaing mengklaim bahwa Ibrahim adalah pengikut Millah atau Syiar mereka. Namun Allah menyangkal klaim tersebut dan menegaskan kalau Ibrahim adalah seorang yang Hanif lagi Muslim. Dan bahwa hanya pengikut setia Millah Ibrahim lah yang pantas disandingkan dengannya.

 مَا كَانَ إِبْرَاهِيمُ يَهُودِيًّا وَلَا نَصْرَانِيًّا وَلَٰكِن كَانَ حَنِيفًا مُّسْلِمًا وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِينَ  (67) إِنَّ أَوْلَى النَّاسِ بِإِبْرَاهِيمَ لَلَّذِينَ اتَّبَعُوهُ وَهَٰذَا النَّبِيُّ وَالَّذِينَ آمَنُوا ۗ وَاللَّهُ وَلِيُّ الْمُؤْمِنِينَ (68)(سورة ال عمران)

 

Artinya: “Ibrahim bukanlah Yahudi dan bukan pula Nasrani, tapi dia adalah seorang yang Hanif lagi seorang Muslim. Dia juga bukan tergolong orang yang musyrik (67) Sungguh orang yang lebih pantas disandingkan dengan Ibrahim tentunya orang-orang yang mengikut Millah Ibrahim, termasuk Nabi ini (Nabi Muhammad) dan orang-orang yang beriman kepada risalahnya. Dan Allah jualah pelindung bagi orang-orang Mukmin”

Siapakah mereka yang disebut “Hunafa”? Kaum hunafa’ adalah orang-orang yang sikap dasarnya condong kepada fitrah atau tabiat insaniyah, mereka selalu mengasah akal budi yang dianugerahkan Tuhan dengan cara memperhatikan fakta-fakta alamiyah di alam raya, fakta-fakta dalam kehidupan sosial, dan fakta dalam diri manusia itu sendiri. Namun mereka tidak berhenti di situ, mereka berusaha dengan tulus mencari hakikat tertinggi yang melandasi semua fakta tersebut dan akhirnya memasrahkan hidup dan matinya kepada Hakikat Tertinggi itu dan bukan kepada yang lain. Tidak heran, dengan sikap Hanifiyah tersebut, mereka mampu secara alamiyah membedakan mana yang hak dan mana yang batil. Sosok Ibrahim merupakan model bagi para “Hunafa”, karena beliau manusia pertama dengan ketajaman indera pengamatan, kekuatan logika berpikir, serta kebebasan jiwa dari kungkungan kepentingan politik dan kekuasaan, yang berhasil menemukan sendiri bahwa bintang, bulan, dan matahari, kendati dengan kehebatan wujudnya, tidak pantas dijadikan Tuhan karena mereka semuanya tunduk kepada sifat perubahan. Hanya zat yang kekal dan tidak tunduk kepada perubahanlah yang patut dijadikan Tuhan dan sesembahan. Atas dasar itu Ibrahim setelah mendapatkan petunjuk dari Allah mengucapkan ikrarnya, sebuah ikrar yang kemudian kita semua ummat mukmin ucapkan dalam setiap rakaat pertama Shalat kita:

إِنِّي وَجَّهْتُ وَجْهِيَ لِلَّذِي فَطَرَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ حَنِيفًا ۖ وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ (Al-An’am:79)

Sesungguhnya Aku hadapkan wajahku dengan sikap yang hanif hanya kepada yang menciptakan langit dan bumi, dan Aku bukanlah tergolong orang-orang yang musyrikun atau menyekutukan Allah”

 

Allahu Akbar 3X Walilllahi al-Hamd!

Hadirin Jamaah Idul Adha yang berbahagia,

Nabi Ibrahim AS selalu diliputi kegelisahan demi menyaksikan di depan matanya praktik pengorbanan tubuh manusia sehingga ketika putra kesayangannya tumbuh menjadi remaja, hampir setiap malam Ibrahim mengalami mimpi menyembelih putranya Ismail. Al-Qur’an merekam dengan gamblang suasana batin yang mencekam ini dan bagaimana mimpi itu dikomunikasikan dengan hati-hati kepada sang putra Ismail dalam Surat al-Shaffat:

 

فلما بلغ معه السعي قال يا بني إني أري في المنام أني أذبحك فانظر ماذا تري قال يا أبت افعل ما تؤمر ستجدني إنشاء الله من الصابرين

 

“Ketika Ismail mencapai usia remaja (sudah bisa diajak bekerja) Ibrahim berkata padanya:, “wahai putraku, Ayah selalu bermimpi dalam tidur bahwa Ayah menyembelihmu. “Coba lihat, apa gerangan pendapatmu?” Ismail menjawab:’ Wahai ayahku, lakukan saja apa yang diperintahkan, niscaya Engkau akan menemukanku Insyaallah termasuk orang-orang yang sabar”

 

Tidak sedikit para ulama menafsirkan ayat ini sebagai sebuah mimpi yang terjadi hanya sekali dan mimpi itu mengandung ujian kepada Nabi Ibrahim untuk membuktikan keteguhan imannya kepada Allah. Melalui mimpi itu seolah-olah Nabi Ibrahim dihadapkan kepada 2 pilihan sulit: memilih anak kesayangannya atau memilih Tuhannya? Tanpa mengecilkan kedudukan penafsiran demikian, marilah kita membaca kalimat tersebut dari sudut pandang linguistik. Para pelajar Tata Bahasa Arab memahami betul bahwa kata “Araa” dalam ayat di atas adalah bentuk kata kerja (Mudhari’) yang menunjukkan kejadian yang berlangsung berulang-ulang. Karena itu, kata “araa fi al-manam” di atas lebih tepat diartikan sebagai “selalu bermimpi”, dan bukan “telah bermimpi”. Sedangkan kata kerja yang digunakan untuk menceritakan kejadian bermimpi yang hanya sekali, biasa digunakan dalam bentuk “fi’il madhi” (kata kerja lampau), yaitu “raaitu”. Kata “raaitu” muncul dalam Surat Yusuf mengisahkan ketika Nabi Yusuf RA menceritakan mimpinya kepada Ayahanda Nabi Ya’kub RA:

 

إذ قال يوسف لأبيه يا أبت إني رأيت أحد عشر كوكبا و الشمس والقمر رأيتهم لي ساجدين. قال يابني لا تقصص رأياك علي إخوتك فيكدوا لك كيدا (سورة يوسف 4-5)

 

Ingatlah ketika Yusuf berkata kepada ayahnya: Wahai Ayahku Aku bermimpi melihat sebelas bintang, matahari dan bulan, aku melihat semuanya bersujud kepadaku. Ayahnya menjawab:”wahai putraku, jangan engkau ceritakan mimpimu ini kepada saudara-saudaramu. Khawatir mereka akan melakukan tipu-daya kepadamu…

 

Allahu akbar 3 X Walillahi al-Hamd!

 

Hadirin Jamaah Idul Adha yang dimuliakan Allah,

 

Tidak ada satupun ayat dalam al-Qur’an yang menunjukkan bahwa Allah membenarkan pembunuhan anak keturunan manusia untuk dikorbankan termasuk dengan alasan mendekatkan diri kepada Allah. Dalam sejarah ada masa ketika manusia menghadapi krisis makanan akibat bencana kekeringan dan bencana alam lainnya, sebagian mereka berputus asa dan tidak sanggup bersabar. Dalam al-Qur’an Allah mengingatkan kepada orang-orang yang beriman bahwa keadaan-keadaan alamiah seperti itu merupakan hal yang pasti dan menjadi cara Allah menguji kesabaran manusia. Allah berfiman dalam Surat al-Baqarah Ayat 155-156:

 

 وَلَنَبْلُوَنَّكُم بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنفُسِ وَالثَّمَرَاتِ ۗ وَبَشِّرِالصَّابِرِينَ (155الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُم مُّصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ (156)

 

Dan Pasti Kami akan mengujimu dengan sesuatu yang berupa ketakutan, kelaparan dan kurangnya harta dan jiwa serta buah-buahan. Karena itu berilah berita gembira kepada mereka yang sabar, yaitu mereka yang apabila ditimpa suatu musibah mereka mengatakan sesungguhnya kita milik Allah dan kita akan kembali kepada Allah”

 

Pada masa sebelum dan ketika Nabi Ibrahim hidup, banyak manusia yang tidak sanggup menghadapi cobaan hidup yang demikian.  Apalagi lagi di kala itu nilai-nilai kemanusiaan yang dilandasi saling membantu dan meringankan beban hidup dalam masyarakat belum lagi menjadi pandangan yang dominan. Jadi tidak heran banyak yang tidak sanggup bertahan. Sebagian mereka membuat keputusan yang ekstrem membunuh putra dan putrinya sendiri dengan alasan agar terlepas dari beban hidup yang mendera. Karena itu, Allah dalam al-Qur’an menegaskan larangan pembunuhan anak-anak karena alasan kemiskinan dan alasan ekonomi karena Allah akan selalu menjamin rezeki bagi setiap manusia.

 

إن ربك يبسط الرزق لمن يشاء ويقدر إنه كان بعباده خبيرا بصيرا (30) ولا تقتلوا أولادكم خشية إملاق نحن نرزقهم و إياكم إن قتلهم كان خطئا كبيرا (31) (سورة الإسراء 30-31)

 

ولا تقتلوا أولادكم من إملاق نحن نرزقكم و إياهم (سورة الأنعام 151)

 

“Sungguh Tuhanmu selalu melapangkan rezeki bagi siapa saja yang dikehendakiNya dan mengukur. Sungguh  Dia maha memahami dan melihat keadaan hamba-hambaNya. Dan janganlah kamu sekalian membunuh anak-anak laki-lakimu karena takut akan kemiskinan yang mendera mereka. Kami memberi mereka rezeki dan juga memberimu. Sungguh membunuh mereka adalah kesalahan fatal.”

 

“Dan janganlah membunuh anak-anak laki-lakimu karena kemiskinan yang tengah menderamu. Kami memberimu rezeki dan juga memberi anak-anakmu.”

 

Hadirin Jamaah Idul Adha yang Allah muliakan!

 

Kembali kepada kisah ikonik penyembelihan kurban oleh Nabi Ibrahim AS. Dikisahkan dalam al-Qur’an di Surat al-Shaffat:

 

فلما أسلما و تله للجبين (103) و ناديناه أن يا إبراهيم(104) قد صدقت الرأيا إن كذلك نجزي المحسنين (105) إن هذا لهوالبلاء المبين (106) وفديناه بذبح عظيم (107)

 

“Tatkala Ibrahim dan Ismail telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis(nya). Dan Kami panggillah dia: "Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar.

 

 

Dari ayat-ayat al-Shaffat di atas kita mengetahui jalan cerita penyembelihan bahwa ketika Ibrahim dan Ismail pasrah untuk menjalankan perintah Allah, Allah pun menggantikan tubuh Ismail dengan seekor domba yang besar. Allah menggantikan kurban tubuh manusia (Ismail) dengan kurban tubuh hewan yang halal untuk dikonsumsi (domba yang besar). Kisah dramatis ini menampilkan sebuah simbol (ramzun) yang mewakili sebuah makna teramat penting bagi fase kehidupan peradaban manusia. Allah meminjam lisan Ibrahim untuk mengumumkan kepada segenap manusia bahwa praktik menjadikan tubuh manusia sebagai “qurban” telah dihentikan sejak itu dan untuk selamanya. Peristiwa dramatis penggantian tubuh Ismail dengan hewan domba merupakan tonggak pembatas antara peradaban yang merendahkan harkat dan martabat manusia, dengan peradaban baru, yang meletakkan harkat dan martabat manusia di tempat yang mulia. Kita yang hidup di zaman modern tidak lagi menyaksikan praktik penyembelihan manusia sebagai kurban untuk para sesembahan. Shadaqallahu al-Azim (Maha Benar Allah atas FirmanNya) karena Allah telah menentukan bahwa peristiwa yang menandai keharaman mengurbankan tubuh manusia diabadikan untuk semua manusia di masa-masa kemudian:

 

و تركنا عليه في الأخرين (108) سلام علي إبراهيم (109)

 

Kami abadikan peristiwa ini di kalangan orang-orang yang datang kemudian."Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim".

 

 

Melalui peristiwa simbolik itu Allah Rabbul Alamien seolah-olah hendak menegaskan 2 hal yang berlawanan sekaligus: pertama, larangan keras menjadikan tubuh manusia sebagai kurban atas dasar apapun. Sebaliknya, kedua, perintah yang tegas untuk membantu kelangsungan hidup anak manusia, melalui cara membagikan rezeki yang Allah limpahkan, khususnya bagi kaum papa dan mereka yang mengalami kesulitan ekonomi.

 

Larangan membunuh anak-anak sebagai kurban untuk mendekatkan diri kepada Tuhan dipertegas dan diperluas sebagai larangan membunuh manusia, siapapun dia, tanpa alasan yang hak. Sebaliknya perintah untuk menyembelih hewan ternak sebagai kurban dan membagikannya kepada fakir miskin dipertegas dan diperluas menjadi perintah untuk melakukan semua usaha yang dapat membantu kelangsungan hidup anak manusia tanpa kecuali. Allah berfirman dalam Surat al-Maidah: 32:

 

مِنْ أَجْلِ ذَٰلِكَ كَتَبْنَا عَلَىٰ بَنِي إِسْرَائِيلَ أَنَّهُ مَن قَتَلَ نَفْسًا بِغَيْرِ نَفْسٍ أَوْ فَسَادٍ فِي الْأَرْضِ فَكَأَنَّمَا قَتَلَ النَّاسَ جَمِيعًا وَمَنْ أَحْيَاهَا فَكَأَنَّمَا أَحْيَا النَّاسَ جَمِيعًا ۚ َ (32)

 

“Oleh karena itu Kami tetapkan bagi Bani Israil, bahwa: barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan dimuka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh seluruh manusia. Dan barangsiapa yang melindungi hidup seorang manusia, maka seolah-olah dia telah melindungi hidup seluruh manusia.

Allahu Akbar 3X Walillahi al-Hamd!

Para jamaah Idul Adha yang dimuliakan Allah!

 

Hari ini kita mengulang kembali perayaan tahunan peristiwa simbolik yang dijalankan oleh Nabiyyuna Ibrahim dan putranya Nabiyyuna Ismail AS. Dalam perayaan ini kita bersyukur sembari membesarkan dan memuliakan nama Allah karena telah memberikan kepada semua manusia sebuah ketetapan ilahiyyah yaitu pengharaman mengorbankan manusia dan perintah untuk mengorbakan hewan ternak sebagai cara mendekatkan diri kepada Allah. Lalu disyaratkan oleh Allah Rabbul Alamien bahwa kurban itu akan sampai kepada Allah apabila sebagian dagingnya dibagikan kepada saudara-saudara kita yang fakir, miskin dan yang tengah menghadapi kesulitan. Ini kemudian menjadi bagian penting dari Syiar agama kita, dan pada waktu yang bersamaan saudara-saudara Mukiminun yang tengah menjalankan ibadah haji di Tanah Suci juga menyelenggarakan penyembelihan hewan kurban yang dagingnya dibagikan kepada mereka yang mengalami kesulitan hidup. Allah berfirman:

وَأَذِّن فِي النَّاسِ بِالْحَجِّ يَأْتُوكَ رِجَالًا وَعَلَىٰ كُلِّ ضَامِرٍ يَأْتِينَ مِن كُلِّ فَجٍّ عَمِيقٍ (27لِّيَشْهَدُوا مَنَافِعَ لَهُمْ وَيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ فِي أَيَّامٍ مَّعْلُومَاتٍ عَلَىٰ مَا رَزَقَهُم مِّن بَهِيمَةِ الْأَنْعَامِ ۖ فَكُلُوا مِنْهَا وَأَطْعِمُوا الْبَائِسَ الْفَقِيرَ (28)(سورة الحج27-28)

 

Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh (27). Supaya mereka menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari-hari yang telah ditentukan atas rezeki yang Allah telah berikan kepada mereka berupa hewan ternak. Maka makanlah sebahagian daripadanya dan (sebagian lagi) berikanlah untuk dimakan orang-orang yang kesusahan dan fakir-miskin (28).

 

Hadirin Jama’ah Idul Adha yang berbahagia,

 

Ada 4 poin yang dapat kita bawa sebagai “lesson learnt” dari hakikat Idul Adha:

 

1.      Hendaklah kita selalu bersyukur dengan mempertautkan aktivitas kita, hasil alam yang kita olah dan kita konsumsi, dengan selalu mengingat Allah,menyebut dan memuji serta membesarkan asma-Nya.  Namun kita harus berhati-hati untuk tidak melakukan itu untuk tujuan pamer kepada orang lain sehingga kita mendapatkan keuntungan sosial, politik dan ekonomi darinya. Pasalnya, Allah mengancam sikap riya itu dengan ancaman Neraka Wail. Nauzu billahi min zalik!

2.      Bersyukur kepada Allah harus dilakukan dengan cara yang halal, yaitu dengan cara membagikan rezeki baik berupa hasil alam (hewan ternak, hasil bumi dan tanaman) serta hasil kreasi tangan kita sendiri. Kita mesti membagi itu kepada saudara-saudara kita baik yang dekat maupun yang jauh, terutama mereka yang mengalami kesulitan hidup baik karena bencana alam maupun karena ulah tangan manusia sendiri.

3.      Menghilangkan nyawa manusia, tanpa alasan yang hak, dengan dalih menggapai ridha Allah hukumnya haram. Karena itu melawan harkat dan martabat kemanusiaan yang dimuliakan Allah (لقد كرمنا بني أدم) dan juga merupakan tipu daya setan belaka agar manusia menjadi bingung dan kabur dalam beragama. Tindakan segelintir ekstremis yang meledakan dirinya dan melenyapkan nyawa manusia dengan dalih menjalankan jihad di jalan Allah dengan sendirinya terlarang dan termasuk muharramat yang harus dijauhi.

4.      Berbagai kegiatan sosial untuk membantu Fakir-Miskin dan mereka yang Mustad’afin  (orang-orang yang lemah dan dilemahkan oleh kebijakan struktural) tanpa membeda-bedakan mereka itulah yang harus terus dihidup-hidupkan dan dimaksimalkan. Kegiatan sosial itu agar langgeng dan berdampak luas perlu dilembagakan dengan baik, dan perlu ditujukan untuk melindungi dan memenuhi hak-hak mereka yang terancam kehidupannya, ekonominya, pendidikannya, akhlaknya, agama dan keyakinanya. Dalam hal ini, Ormas-ormas seperti Muhammadiyah dan Nahdatul Ulama telah memberikan uswah yang baik kepada bangsa Indonesia, semoga Allah memberikan mereka kekuatan agar tetap istiqamah menjalankan amanah Nabi Ibrahim memelihara kehidupan manusia yang berketuhanan, bekemanusiaan, adil dan beradab.  Semoga Allah selalu memberikan sinaran petunjuk dan hidayatNya kepada kita semua.

 

 

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ فِى اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، اِنَّهُ هُوَ الْبَرُّ الرَّؤُوْفُ الرَّحِيْمُ

 

Khutbah II



اللهُ اَكْبَرْكَبِيْرًا وَالْحَمْدُ للهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلاً ، لاَ إِلَهَ إِلاّ الله وَلَهُ الْحَمْدُ فِى السَّمَوَاتِ وَالأَرْضِ وَعَشِيًّا وَحِيْنَ تُظْهِرُوْن

 

 الْحَمْدُ للهِ الَّذِىْ بَسَطَ لِعِبَادِهِ مَوَاعِدَ إِحْسَانِهِ وَإِنْعَامِه ، وَأَعَادَ عَلَيْنَا فِى هَذِهِ الأَيَّاّمِ عَوَائِدَ بِرِّهِ وَإِكْرَامِه ، أَحْمَدُهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عَلَى جَزِيْلِ إِفْضَالِهِ وَ إِمْدَادِهْ ، وَأَشْكُرُهُ عَلَى كَمَالِ جُوْدِهِ بِعِبَادِهِ ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ فِىْ مُلْكِهْ ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَمَوْلاَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَشْرَفُ عِبَادِهِ وَزُهَّادِهْ ، اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى هَذَا النَّبِيِّ الكَرِيْمِ وَالرَّسُوْلِ الْعَظِيْمِ سَيِّدِنَا وَمَوْلاَنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِهِ وَصَحْبِهِ الَّذِيْنَ كَانُوْا أُمَرَاءَ الْحَجِيْجِ لِبِلاَدِ اللهِ الْحَرَامِ وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا

 

 

فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهْ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَى بِمَلآ ئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعاَلَى إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كما صليت علي إبراهيم وعلي آل إبراهيم في العالمين إنك حميد مجيد

 

اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ َ إنك سميع قريب مجيب الدعوات يا قاضي الحاجات. اللهم ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَاوَاِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ. عِبَادَاللهِ ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُنَا بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ والله يعلم ما تصنعون

 

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

 

 

KOLOM DIREKTUR