Workshop Desain Program "Qualitative Research on Pesantren Resilience against Radicalism"

12 Jul 2019 113 views

Workshop Desain Program


 

Di era reformasi saat ini, khususnya dalam sepuluh tahun terakhir, Indonesia mengalami kecenderungan peningkatan radikalisme dan ekstrimisme bernuansa kekerasan, yang ditandai dengan terjadinya serangkaian aksi kekerasan di berbagai tempat dan penangkapan sejumlah terduga teroris. Selain itu, jumlah konflik kekerasan dan intoleransi bernuansa agama juga terus meningkat. Dengan lebih dari 200 kasus kekerasan berbasis agama setiap tahunnya, isu radikalisme dan ekstrimisme merupakan masalah serius bagi Indonesia.

Dilihat dari aktor yang terlibat dalam aksi terorisme di Indonesia, terdapat sejumlah sosok yang berlatar belakang pesantren. Misalnya pelaku Bom Bali, Amrozi cs (Mukhlas & Ali Imran), berasal dari Pesantren Al-Islam, Tenggulun, Lamongan; 2 tersangka teroris Solo yang ditembak mati tahun 2012, Farhan Mujahid dan Muchsin Tsani, keduanya jebolan Pesantren Ngruki, Solo, dan Aman Abdurrahman, pimpinan Jamaah Ansharud Daulah/JAD, pernah nyantri di Pesantren MAN-PK Ciamis. Namun demikian, tidak bisa dikatakan mereka telah merepresentasikan wajah pesantren secara keseluruhan karena sebagian besar pesantren tidak terpapar radikalisme keagamaan. Laporan investigasi BNPT Tahun 2016 memang menyebutkan bahwa sejumlah pesantren terindikasi radikal. Namun demikian, tentu masih ada ribuan pesantren lainnya di Indonesia masih berkarakter moderat, toleran, dan mendukung demokrasi dan NKRI.

Paska Bom Bali 2002, pesantren dan keterkaitannya dengan radikalisme mulai menarik untuk diteliti. Studi-studi menunjukkan bahwa ideologi Islamis, baik Salafi maupun Ikhwani, telah memengaruhi pembentukan dan corak pemahaman keagamaan beberapa pesantren yang diidentifikasi radikal. Perkembangan dan dinamika Salafisme di Indonesia ikut memengaruhi pemahaman keagamaan pesantren kontemporer. Namun harus dikatakan, meskipun sama-sama mendakwahkan puritanisme Islam, tidak setiap aliran Salafi berorientasi radikal-jihadi. Beberapa varian Salafi ada yang a-politik dan kooperatif dengan pemerintah, meskipun varian yang lain aktif secara politis dan kritis terhadap pemerintah.

Di sisi lain, integrasi pendidikan pesantren ke dalam sistem pendidikan nasional telah membawa dampak yang signifikan pada mobilisasi vertikal alumni pesantren. Kebijakan integrasi pendidikan telah menyebabkan lahirnya kelompok intelektual muda Muslim berlatar santri. Saat ini, Kementerian Agama RI tengah mengarusutamakan moderasi agama untuk mencegah tumbuhnya sikap intoleran dan radikalisme melalui pesantren, melalui pembahasan RUU Pesantren dan Pendidikan Keagamaan. Dalam konteks kebijakan politik keagamaan tersebut, studi tentang bagaimana pesantren menjalankan moderasi keagamaannya semakin menemukan signifikansi tersendiri. Pemahaman yang mendalam mengenai mengapa dan bagaimana moderasi keagamaan dipelihara, dikembangkan, dan dipertahankan oleh masing-masing pesantren dapat menjadi input pemikiran (insights) yang strategis untuk pengembangan kebijakan pendidikan pesantren dan pendidikan keagamaan.

Berangkat dari uraian di atas, untuk mengkaji dan mendalami ketahanan dan kerentanan pesantren dalam menghadapi ideologi dan gerakan radikalisme dan ekstremisme bernuansa kekerasan, CSRC UIN Jakarta dan PMU CONVEY PPIM UIN Jakarta-UNDP akan melaksanakan program penelitian dengan judul “Qualitative Research on Pesantren Resilience against Radicalism” di 8 provinsi: Aceh, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan Selatan, Sulawesi Selatan, dan Nusa Tenggara Barat. Program ini dilaksanakan dalam rentang waktu Juli-Desember 2019.

Metodologi yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif terapan (applied qualitative research) dan menggunakan pendekatan Interpretive Phenomenology (IP). Dengan pendekatan ini penelitian bertujuan untuk memahami, menganalisis, dan mengeksplorasi mengapa dan bagaimana stakeholders pesantren yang diteliti membangun, merawat, mempertahankan serta mengembangkan daya tahannya terhadap radikalisme dan esktremisme. Sebaliknya, mengapa dan bagaimana stakeholders pesantren yang diteliti terpapar radikalisme dan ekstremisme meskipun gencarnya penolakan atas ideologi tersebut oleh pemerintah maupun masyarakat. Sebagai pendukung, juga dilakukan pendekatan kuantitatif dengan survei untuk melihat opini, sikap, dan perilaku stakeholders pesantren yang menjadi responden. Penggabungan kedua tipe pengumpulan data ini dimaksudkan untuk menghasilkan penelitian yang komprehensif dengan menyajikan tren persentase dalam bentuk grafik yang terungkap melalui survei dengan dianalisis secara kritis berdasarkan hasil wawancara mendalam. Responden sampel survei dipilih secara purposive, yang merupakan narasumber wawancara mendalam dari stakeholders pesantren.

Untuk mengawali penelitian ini dan guna memastikan kualitas pelaksanaan program dari sejak awal hingga akhir, tahapan krusial yang harus dilewati adalah disain program, disain operasional dan instrumen penelitian. Berkaitan dengan itu, CSRC UIN Jakarta menyelenggarakan kegiatan berupa Workshop Disain Program. Secara umum workshop ini ditujukan untuk mendiskusikan secara mendalam dan menghasilkan disain program, mulai persiapan hingga akhir program, yang meliputi: pengembangan instrumen penelitian; pengumpulan data lapangan; workshop temuan penelitian; diseminasi hasil penelitian; dan penulisan laporan penelitian. Disain operasional dan instrumen penelitian yang dihasilkan diharapkan akan berguna bagi para pihak yang 3 terlibat dalam melaksanakan seluruh rangkaian program, khususnya bagi tim peneliti yang melakukan pengumpulan data lapangan hingga penulisan laporan penelitian.

Workshop Disain Program ini akan mengombinasikan dua pendekatan, yaitu sesi presentasi draft disain dan instrumen penelitian, yang telah disampaikan oleh tim pelaksana program dan konsultan; dan sesi diskusi terfokus dan mendalam, dimana setiap peserta workshop diharapkan dapat memberikan kontribusi dan masukan atas draft disain dan instrumen penelitian yang telah dipersiapkan oleh pelaksana program dan konsultan.

Workshop Disain Program ini diselenggarakan selama tiga hari (9-11 Juli 2019) di Hotel Horison Ultima Bhuvana Ciawi, diikuti oleh 18 peserta termasuk di dalamnya tim peneliti dan tim manajement CONVEY 3 dan CSRC UIN Jakarta.

KOLOM DIREKTUR