TALKSHOW RAMADHAN MASA DEPAN MODERATISME ISLAM DI KAMPUS

24 Mei 2019 173 views

TALKSHOW RAMADHAN  MASA DEPAN MODERATISME ISLAM DI KAMPUS


CSRC UIN Syarif Hidayatullah Jakarta bekerja sama dengan Himpunan Qari-Qari'ah Mahasiswa (HIQMA) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta menggelar Talkshow “Masa Depan Moderatisme Islam di Kampus” Kamis (23/5) bertempat di Masjid Al-Jami’ah Student Center UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.  

Direktur CSRC UIN Jakarta, Idris Hemay, M.Si menyampaikan bahwa Acara ini diselenggarakan dengan maksud untuk melihat sejauh mana tantangan radikalisme agama yang dihadapi kampus-kampus khususnya UIN Jakarta sebagai kampus Islam dan bagaimana sebaiknya fenomena ini disikapi. Mengingat tradisi keilmuan Ciputat (UIN) yang terkenal dengan moderatismenya sebagaimana juga kini sedang digaungkan oleh Kementerian Agama RI dengan semangat Islam Washatiyah yang Rahmatan Lil-Alamin, maka acara ini makin penting untuk diadakan guna mengidentifikasi langkah-langkah yang diperlukan khususnya bagi para mahasiswa UIN.

talkshow ini dihadiri oleh sekitar 250 mahasiswa sekaligus sebagai ajang silaturahim dengan berbuka bersama dengan menghadirkan Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Prof. Dr. Amany Lubis, MA. untuk menyampaikan keynote speech sekaligus membuka acara talkshow secara resmi, juga Prof. Dr. Azyumardi Azra (Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta) dan Irfan Abubakar (Anggota Dewan Penasehat CSRC UIN Jakarta) sebagai Narasumber.

“Kita akan breakdown moderasi beragama di uin bukan hanya di matakuliah tapi juga akan jadikan kata kunci pada penelitian di belasan milyar penelitian di uin jakarta. Dalam pengabdian masyarakat juga slogan yang kita gunakan adalah moderasi beragama. Bukan hanya diwujudkan oleh kata-kata, itu harapan saya,” Tutur Amany saat menyampaikan Keynote Speech.

Irfan Abubakar menyampaikan dalam pemaparannya “Salah satu penyebab orang bersikap ekstreme yaitu kurang memahami literasi keagamaan secara kontekstual, tidak punya atau kurang fiqh al-tadayyun, hanya berpatokan pada fiqh al-din atau pemahaman teks alquran dan hadis yang ideal. Para mahasiswa yang berwawasan rendah menjadi makanan empuk bagi propaganda ekstremis”, terangnya.

Sedangkan Azyumardi Azra menjelaskan “Keislaman kita tidak perlu  dipertentangkan dengan karakter keindonesiaan, di negara arab bahkan perempuan/Qori’ah tidak boleh membaca quran di depan audiens laki-laki, karena suara perempuan merupakan aurat, ini hanya terjadi di indonesia. Di negara lain bahkan perempuan muslimah itu dihargai hanya setengah laki-laki, beda dengan indonesia yang setara”, jelasnya.

“Jadi melihat faham moderatisme ini, saya tidak pesimis paham ini akan berhasil karena kampus kita dalam pengajarannya pendekatan non sektarian atau non mazhabi”, tambah Azra.[LH]

 

KOLOM DIREKTUR