Sarasehan (FGD) Literasi Keagamaan di Masjid dan Pengaruhnya terhadap Kehidupan Sosial Kemasyarakatan

4 Mar 2019 72 views

Sarasehan (FGD) Literasi Keagamaan di Masjid dan Pengaruhnya terhadap Kehidupan Sosial Kemasyarakatan

Jika kita menilik pada sejarahnya, aktifitas di masjid tidak terbatas hanya untuk beribadah saja. Pada Zamah Rasulullah SAW sampai sekarang, masjid masih memegang problema keumatan dari berbagai dimensi. Peradaban muslim juga memiliki ketergantungan pada tempat peribadatan tersebut, dimana masjid menjadi sentral diskusi pemerintahan, strategi perang, musyawarah dan juga pendidikan.

Nabi Muhammad SAW menjadikan masjid sebagai pusat kontrol pada masa kekhalifahannya. Berbagai macam musyawarah mufakat perihal keumatan dan kebangsaan dihasilkan dari perkumpulan jamaah yang ada di masjid. Karena begitu terbukanya, sampai – sampai masyarakat turut berperan dalam mengambil keputusan pemerintah.

Namun akhir-akhir ini masjid mulai ditinggalkan jamaahnya dalam menjadi kiblat aktivitas-aktivitas central tersebut. Hal tersebut menggelitik CSRC untuk melakukan penelitian di 7 kota se-Indonesia. “Dari hasil penelitian tersebut beberapa masjid tidak menunjukan adanya keterlibatan pemuda, baik dalam shalat wajib maupun kegiatan keagamaan lainnya. Bahkan saat masjid sedang menunjukkan waktu untuk shalat, ada beberapa lokasi yang pemudanya melakukan maksiat/judi. Miris sekali melihat hal tersebut”, terang Muchtadlirin selaku peneliti CSRC.

 

Berlatarbelakang penelitian tersebut, CSRC mengadakan kegiatan sarasehan bersama para aktivis masjid di Pondok Pinang, tepatnya berlokasi di Masjid An-nur, Senin (25/2)  pukul 10.00-13.00 WIB, sarasehan ini melibatkan 10 orang aktivis masjid yang dengan aktif mendiskusikan tema “Literasi Keagamaan di Masjid dan Pengaruhnya Terhadap Kehidupan Sosial Kemasyarakatan”.

 

Pembahasan semakin menarik saat moderator, Sholehudin A. Aziz, MA  menggali informasi mengenai pandangan para peserta sarasehan tentang pemuda masjid, Bagaimana kondisi literasi kegamaan di masing-masing masjid, apakah dakwah-dakwahnya sudah rahmatan lil alamin dan Sudah sesuai dengan apa yang di contohkan oleh Nabi Muhammad SAW serta saran para peserta untuk menjadikan masjid central kehidupan.

 

 “Pada dasarnya setiap remaja memiliki potensi yang baik didalam masjid. Hanya saja ini memerlukan dorongan dan arahan dari orang tua. Pada kenyataannya mereka kurang mendorong anak-anak untuk tampil di tengah masyarkat sosial”, ungkap Ustad Mujahid.

 

 

KOLOM DIREKTUR