Diskusi Umum “Masa Depan Bahasa dan Sastra Indonesia”

18 Feb 2019 371 views

Diskusi Umum “Masa Depan Bahasa dan Sastra Indonesia”

Akhir-akhir ini muncul wacana tentang keterancaman bahasa Indonesia disebabkan oleh berkembangnya varian bahasa pergaulan di media sosial dan di kalangan kaum muda. yang tidak sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia yang baku. Terlepas dari benar atau tidaknya wacana tersebut, akar dari kekhawatiran ini dapat dimengerti. Bahasa Indonesia, bagaimanapun, adalah identitas nasional yang harus dipertahankan karena terkait langsung dengan keutuhan kita sebagai bangsa. Tidak ada yang mampu menyatukan kita, selain bahasa Indonesia. Bayangkan kalau alat pemersatu itu terancam, kehilangan wibawa, atau dirusak polanya oleh varian-varian bahasa yang muncul di ruang pergaulan. Kita akan kehilangan pegangan, dan lebih menyedihkan lagi bila perkembangan bahasa kita menjurus ke arah “anarkisme” yang tak terkendali.

Pada saat yang sama, kita juga melihat tersingkirnya sastra dari kehidupan karena minat baca yang rendah atas karya-karya kesusastraan. Sebuah penelitian pernah menyebutkan bahwa masyarakat kita semakin asing dengan nama-nama sastrawan dan karya-karya sastra. Dari sekian banyak sastrawan, hanya nama Chairil Anwar dengan sajaknya yang terkenal “Aku” yang masih muncul dalam ingatan masyarakat. Padahal karya sastra terus ditulis, terlepas dari kualitasnya, dan sastrawan masih terus bermunculan.

Siapakah yang patut disalahkah dengan situasi seperti ini: Kalangan sastrawan, sistem pendidikan, pemerintah, ataukah masyarakat itu sendiri?  Namun lebih penting dari persoalan siapa yang salah adalah pertanyaan ini: bagaimana nasib bahasa dan sastra Indonesia ke depannya jika kondisi seperti saat ini terus berlangsung? Berdasarkan itu, diskusi dengan tema “Masa Depan Bahasa dan Sastra Indonesia” diadakan di CSRC UIN Syarif Hidayatullah Jakarta pada Selasa, 12 Februari 2019. Diskusi ini dibuka oleh Irfan Abubakar, MA selaku Direktur CSRC yang sekaligus menyampaikan pengantar ke tema diskusi. Kemudian dilanjutkan dengan pembahasan materi oleh Ahmad Gaus AF, dosen Sastra dan Budaya Swiss German University (SGU), Tangerang, yang juga dikenal sebagai seorang penulis prolifik.

Sastra Sudah Dilupakan

Dalam pengantarnya, Irfan Abubakar menyayangkan kenyataan bahwa sastra sudah dilupakan oleh masyarakat kita. Belakangan ini, masyarakat lebih fokus terhadap isu politik ketimbang isu budaya. Ia menyampaikan keprihatinannya perihal penyalahgunaan karya sastra, yang belakangan digunakan sebagai alat untuk menyerang lawan politik. Padahal karya sastra seharusnya berfungsi untuk memanusiakan manusia, dengan membangkitkan sisi yang paling halus dari manusia, yaitu kepekaan sosial, persaudaraan, dan empati. Oleh sebab itu, menurutnya, diskusi ini menjadi penting karena terkait dengan masa depan kemanusiaan kita.

Terkait dengan perkembangan kreativitas dan produktivitas sastrawan di Indonesia, Irfan Abubakar, MA berpendapat bahwa para sastrawan mungkin takut untuk berkarya karena belakangan karya sastra pun dapat mendatangkan tuntutan penistaan. Padahal, menurutnya, hal-hal yang dapat menyinggung dan mendapatkan pertentangan dari masyarakat bisa dihindari dengan permainan simbol dan metafora yang lazim dalam karya sastra, khususnya puisi, sehingga maknanya tidak terlalu gamblang. Selain itu, stagnannya perkembangan sastra di Indonesia juga disebabkan karena tidak adanya political will untuk menempatkan sastra sebagai bagian penting dari bangsa.

Bahasa Kian Menjauh dari Sastra

Ahmad Gaus yang bertindak sebagai pembicara utama berpendapat bahwa tidak ada perkembangan yang berarti dalam bahasa Indonesia sejak ia dibakukan, dipolakan dalam rumus bahasa yang baik dan benar. Yang terasa, ujarnya, justru kekakuan dalam berbahasa. Bahasa Indonesia menjadi bahasa yang sangat formal yang hanya cocok digunakan di forum-forum resmi. Di luar itu, seperti dalam pergaulan, bahasa yang baik dan benar itu tidak bisa digunakan, “Lucu sekali kalau kita bercakap-cakap dengan teman menggunakan bahasa baku,” tandasnya. Dijelaskan bahwa selama ini ada kesenjangan antara bahasa baku dengan bahasa gaul. Pendulumnya bergerak terlalu ekstrem dari kiri ke kanan atau sebaliknya. Harusnya kita punya bahasa “menengah” yang berfungsi sebagai bahasa pergaulan yang tidak terlalu kaku namun juga sekaligus memiliki karakter bahasa budaya tinggi.

Ia mencontohkan bahasa dalam film-film Indonesia yang tidak maksimal mengeksplorasi kekayaan estetik bahasa Indonesia. Akibatnya film-film kita gagal menyajikan sentuhan seni yang paripurna, sebab kita hanya disuguhi cerita. Berbeda dengan film-film produksi luar yang mampu mengintegrasikan kecanggihan cerita, sinematografi, dan sekaligus keindahan bahasa. “Kalau film hanya mampu menampilkan bahasa yang sama dengan bahasa sehari-hari, lalu di mana unsur seninya. Bahasa film harusnya setingkat atau beberapa tingkat lebih tinggi dari bahasa sehari-hari. Sebab salah satu fungsi film ialah mengedukasi, termasuk di dalamnya mengedukasi masyarakat agar memiliki selera bahasa yang berkelas.”

 

Tersingkirnya estetika dari bahasa Indonesia, menurut Gaus, disebabkan karena bahasa sudah dipisahkan dari sastra. Sehingga seperti jasad tanpa ruh, raga tanpa jiwa. Pendidikan sastra hanya menjadi bagian kecil dalam mata pelajaran bahasa. Ada komunitas sastrawan di satu pihak yang menjadi penguasa jagad sastra, di pihak lain ada masyarakat yang tidak mengenal sastra. Keduanya dipisahkan oleh tembok tinggi. Padahal di masa lalu masyarakat adalah pencipta karya sastra itu sendiri seperti yang terlihat dalam budaya berpantun. Saat ini pantun sudah hilang dari tradisi berbahasa, padahal anak-anak yang diajari pantun sejak dini akan tumbuh menjadi penutur bahasa yang baik. 

Akibat lebih jauh dari terpisahnya bahasa dan sastra ialah, bahasa kita menjadi sangat kaku dan kering. Belum lagi orientasi politik bahasa yang cenderung pada birokrasi dan peraturan. “Masak cuma mau memasukkan 3 perubahan sepele saja harus mengeluarkan Peraturan Menteri yang mengubah EYD menjadi EBI. Ini menunjukkan rezim bahasa tidak mengerti persoalan dan minim wawasan,” tandas Gaus. Walhasil sejauh ini, bahasa Indonesia hanya dapat menjadi alat komunikasi dan tidak bisa menjadi ekspresi kebudayaan. Maka yang harus kita lakukan ialah memutus keterasingan masyarakat terhadap sastra. Bahasa butuh ruang untuk berkembang, dan salah satu medianya adalah karya sastra.

Berbicara mengenai bahasa kaum milenial, dosen sastra dan budaya SGU ini menyatakan bahwa kaum milenial memiliki selera bahasa dan nalar estetika yang berbeda. Penyair yang ia jadikan contoh sebagai yang diminati oleh kaum milenial ialah Rupi Kaur, penyair perempuan India kelahiran Amerika yang dikenal sebagai instapoet (penyair instagram). Ia menjadi fenomena karena karyanya sangat popular di kalangan anak muda. Dalam satu tahun buku puisinya habis terjual setengah juta kopi. Prestasi yang tidak pernah dibuat oleh siapapun dalam sejarah. “Rupi Kaur lah yang membangkitkan kembali minat anak-anak muda terhadap karya sastra, khususnya puisi, setelah puluhan tahun lamanya kaum muda Amerika pun apatis dengan puisi.” Salah seorang peserta diskusi yang telah membaca buku puisi Rupi Kaur yang berjudul Milk and Honey menggambarkan puisi-puisi Rupi Kaur sebagai, “mudah dimengerti dan menimbulkan perasaan ‘gue banget’”.

Ahmad Gaus dan Irfan Abubakar sepakat bahwa meskipun kaum milenial memiliki selera berbahasa dan sastra yang berbeda, karya-karya sastra sebelumnya tetap harus diketahui dan dibaca. Karya sastra seperti puisi tidak selalu harus dimengerti, tapi tetap dapat dinikmati. Karena karya sastra sebagai seni lebih ditujukan untuk dinikmati. Seperti sebuah lukisan yang dapat kita nikmati tanpa harus mengerutkan kening untuk mencari-cari tahu apa pesannya. Sebagai pamungkas, Gaus mengatakan bahwa bahasa Indonesia akan kembali memiliki daya hidup, daya estetik, dan masa depan kalau lahir kembali seorang penyair seperti Chairil Anwar yang mampu mengubah pola pengucapan bahasa Indonesia dari langgam melayu ke bahasa Indonesia modern seperti sekarang. “Fungsi kelahiran seorang penyair ialah membawa bahasa ke masa depan,” pungkasnya.

Diskusi yang mengambil tema “Masa Depan Bahasa dan Sastra Indonesia” ini diikuti oleh para mahasiswa dari berbagai universitas yaitu, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, UNJ, dan UMJ. Rata-rata pesertanya adalah mahasiswa sastra sehingga mereka terikat dengan pembahasan dalam diskusi. Selain itu, rekan-rekan peneliti dan aktivis dari CSRC juga turut ambil bagian sebagai peserta. Diskusi yang berlangsung selama kurang lebih 3 jam ini dipandu oleh Alifya Kemaya Sadra, mahasiswa jurusan sastra Inggris, FAH UIN Jakarta. Diskusi berjalan lancar dan diharapkan akan diadakan kembali di lain waktu dengan tema yang berbeda. (Alifya Kemaya Sadra)

 

KOLOM DIREKTUR