CSRC UIN: Takmir Masjid Kurang Literasi Agama

7 Feb 2019 351 views

CSRC UIN: Takmir Masjid Kurang Literasi Agama
Caption: Ilustrasi pengajian di masjid. Foto: Istimewa

Oleh: Suandri Ansah |

Sangat sedikit yang menjadikan masjid sebagai wahana memperdalam literasi keagamaan dengan mempertimbangkan konteks sosial

wartamelayu.com, Jakarta — Literasi keagamaan di masjid masih rendah. Sebagian masjid rawan dijadikan alat propaganda politik. Generasi milenial tidak tertarik belajar agama di masjid.

Demikian tiga kesimpulan yang didapat dari hasil studi tentang masjid di Indonesia dan perannya dalam peningkatan literasi keagamaan yang digagas Center for The Study of Religion dan Culture (CSRC) Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah, Jakarta.

Direktur CISRC UIN Jakarta, Irfan Abubakar menjelaskan, literasi keagamaan yang dimaksud bukan sebatas pemahaman tentang ajaran ideal Islam yang termaktub dalam al-Qur’an dan Hadits Nabi.

“Tapi juga meliputi wawasan tentang bagaimana ajaran Islam diterapkan dalam konteks sosiaI-historis yang berubah,” kata dia di acara Seminar dan Peluncuran Buku Masjid di Era Milenial: Arah Baru Literasi Keagamaan di Melawai, Jakarta Selatan, Rabu (6/2).

Irfan memaparkan, dalam studi tersebut ditemukan bahwa kualitas literasi keagamaan para Takmir (pengurus), Khatib, dan Imam masjid, masih rendah.

Survei CSRC UIN Jakarta (2010) terhadap takmir masjid di DKI Jakarta menemukan bahwa hampir semua takmir masjid yang diinterview menilai masjid tidak hanya sebatas tempat ibadah, tapi juga wahana yang ideal untuk pendidikan nilai-nilai Islam (98,8%)

Survei tersebut juga menemukan bahwa pendidikan keagamaan umumnya berkisar masalah ibadah, aqidah dan akhlaq, dimana 70 persen masjid menyinggung isu-isu sosial yang terjadi di masyarakat. Namun, materi keislaman itu disampaikan menggunakan metode ceramah satu arah (96%).

Hanya 38% takmir yang menyatakan pernah mengadakan diskusi di masjid. Rata-rata yang mengisi khutbah dan pengajian para ustadz atau kiai, itupun yang sepaham dengan pemikiran agama takmir masjid (74%).

“Kemudian, hanya 8 persen takmir masjid di Jakarta yang membolehkan cendekiawan Muslim mengisi ceramah di masjid,” tulis Irfan dalam esainya ‘Masjid dan Literasi Keagamaan: Tinjauan Historis dan Situasi Kontemporer di Indonesia yang termuat dalam buku itu.

Dengan mempertimbangkan data terakhir, lanjut Irfan, dapat diasumsikan bahwa pendidikan keagamaan yang dilangsungkan di masjid mengutamakan literasi keagamaan yang normatif.

“Sangat sedikit yang menjadikan masjid sebagai wahana memperdalam literasi keagamaan dengan mempertimbangkan konteks sosial.” (Kbb)

 

Sumber berita https://wartamelayu.com/csrc-uin-takmir-masjid-kurang-literasi-agama/

KOLOM DIREKTUR