Home / Tentang Kami / Buku Tamu / Kontak Kami / Login
18/06/2009 11:01:31

Review Dick van der Meij: Diaspora Berkelanjutan Bugis-Makassar

Buku dan DVD ini penting karena tiga hal: pertama, buku dan DVD Ini men-ceritakah peranan bangsa Bu­gis-Makassar dalam sejarah Jawa dan peristiwa politik internal Mataram dalam kaitannya de-ngan perang Trunojoyo (±1675-±1680). Kedua, buku ini memaparkan keterkaitan sejarah suku bangsa Indonesia yang ber-beda dalam sejarah penaklukan dan penjajahan Belanda dan aki-batnya yang jauh lebih panjang daripada sejarah terbentuknya wilayah Hindia-Belanda saja Ke-tiga dalam buku ini menjadi jelas betapa penting peran naskah dan cerita lama dalam bahasa ibu orang Bugis-Makassar dan Jawa untuk membahas dan mema-hami sejarah Nusantara.

Perang Trunojoyo melawan Prabu Mangkurat I dan II dari Mataram merupakan sebuah pe­ristiwa yang menentukan dalam sejarah Indonesia karena akibat perang yang dahsyat ini nasib Nusantara ditetapkan untuk dua abad berikutnya. Perang ini me­rupakan titik penting dalam upa-ya mewujudkan penjajahan Be­landa di Jawa.

 

Inspirasi gerakan pemuda

Pada akhir abad ke-17, banyak bangsawan Bugis-Makassar de-ngan anak buahnya meninggal-kan daerah asalnya dan merantau

ke seluruh pelosok Nusantara. Mereka pergi dari daerah asalnya karena kehilangan dasar kehi-dupannya sebagai akibat perang Makassar pada tahun 1667 dan ditandatanganinya Perjanjian Bongaya Mereka kehilangan ke-, pentingan mereka dan mencari nasib di daerah lain, di antaranya di pesisir utara Jawa.

Dua tokoh Bugis-Makassar ka-kak-beradik, KaraEng Galesong dan KaraEng Naba, sangat pen-ting dalam peristiwa perang Tru­nojoyo. Sesudah sejumlah peris­tiwa dan pertempuran lama yang dahsyat yang dikisahkan dalam Babad Tanah Jawi, KaraEng Na­ba menjadi alat Prabu Mangkurat II dalam mengalahkan Truno­joyo dan KaraEng Galesong se-telah kemeriangannya dikawin-kan dengan seorang gadis ningrat Jawa, yaitu putri dari Tumeng-gung Sontoyodo II. ^

Peristiwa ini berekor panjang. Keberadaan orang Bugis-Makas­sar terbukti meninggalkan kesan di tanah Jawa sampai sekarang. Pada tanggal 20 Mei 1908, tepat seratus satu tahun yang lalu, Dr Wahidin Soedirohoesodo (1857-1917) menginspirasikan or-ganisasi modern untuk priayi Ja­wa, Boedi Oetomo. Organisasi ini pada dasarnya merupakan ge­rakan mahasiswa, terutama dari STOVIA (School Tot Opleiding van Inlandsche Artsen/sekolah dokter Jawa), sekolah pertanian dan peternakan.

Dalam waklu beberapa bulan saja Boedi Oetomo sudah men­jadi organisasi untuk priayi kecil pada umumnya. Tokoh dokter Jawa ini yang menjadi alumnus STOVIA ternyata bukan orang yang hanya memiliki darah Jawa saja. Di dalam tubuhnya menganr darah Bugis-Makassar karena be-liau keturunan dari KaraEng Na­ba. Sesudah perang Trunojoyo, KaraEng DaEng Naba dianuge-rahkan sebidang tanah di lereng Merapi, tepatnya di Desa Mlati.

Pendirian Boedi Oetomo menginspirasikan pendirian se­jumlah gerakan pemuda lain di Indonesia, di antaranya Jong Ja­va, Jong Sumatra, Paguyuban Sunda, Jong Celebes, dan banyak yang lam. Sekarang, Dr Wahidin Soedirohoesodo adalah pahlawan nasional Indonesia. Beliau dima-kamkan di Mlati, Kabupaten Sleman, DI Yogyakarta Makam itu begitu penting dalam sejarah Indonesia sehingga setiap tahun Rp 4 juta disiapkan untuk re-novasi rutin, bahkan pada tahun 2007 Rp 12 juta digunakan untuk renovasi lebih lengkap. Karena begitu pentingnya pendirian Bo­edi Oetomo, maka tanggal 20 Mei dirayakan sebagai Hari Kebang­kitan Nasional (Hartetnas).

 

Kesatuan orang Nusantara

Saling keterkaitan peristiwa kesejarahan di Sulawesi Selatan dan di Jawa merupakan salah satu kenyataan tentang kesatuan orang Nusantara melawan pen­jajah Belanda. Boleh dikatakan bahwa wilayah Nusantara tidak menjadi sebuah kesatuan politik berkat penjajahan Belanda saja, tetapi mungkin terwujud justru

karena perlawanan me­reka bersama melawan penjajah Belanda itu. Karena tidak ada satu pun bangsa di dunia yang se-nang.diduduki bangsa lain, maka peng-huni Nu­santara mene-mukan diri mereka dalam cita-cita bersama akan berupaya melepas-kan diri dari belenggu ko-lonial. Tanpa sadar, da­lam Perjanjian Bongaya penjajah Belanda memo-jokkan bangsawan-bangsa-wan Sulawesi Selatan dalam posisi yang merugikan sedemi-Man rupa sehingga mereka ter-paksa mencari kemungkinan un­tuk mencari rezeki dan kedu-dukan di daerah lain di seluruh-Nusantara dan dengan demikian ikut menciptakan rasa kebersa-maan orang Nusantara dalam ci­ta-cita bersama melawan Belan­da hingga kemerdekaari.

 

Hal penting yang ketiga dari buku ini adalah peran penting naskah dan teks lama dalam be­berapa bahasa ibu untuk dite-lusuri dan dipahami dalam ka­itannya dengan sejarah Nusan­tara dan Indonesia. Berkat edisi suntingan teks lama dalam ba­hasa Jawa dan bahasa lain di Nusantara kita dapat menelusuri sejarah Indonesia Berkat usaha pakar filologi dan tradisi lisan, dan para penggemar yang tetap berusaha melangsungkan kebu-dayaan teks dan naskah, banyak hal yang justru membumbui se­jarah Indonesia dapat ditemu-kan. Berkat adaiiya naskah dan cerita lisan, sejarah itu dapat di-telusuri dan dipahami dilihat dari sudut mata orang Indonesia sen-diri sehingga pengertian kita ti­dak terbatas dari sudut pandang tunggal saja.

 

DVD yang mengiringi terbitan buku ini sangat bagus dan perlu ditonton murid dan mahasiswa serta masyarakat luas. Hemat sa-ya, DVD ini perlu ditayangkan di televisi nasional Indonesia saat prime time karena sangat ber-manfaat untuk mengerti dan mengilhami bagian sejarah In­donesia yang penting ini.

 

DVD dibuat profesional dan secara efektif menyajikan tarian, pembacaan naskah macapat, se­rta sejarah lama dan modern dengan cara sangat efektif. Se­jarah dahulu kala tidak berakhir, tetapi masih berperan penting dalam kehidupan sehari-hari. Keberlangsungan kebudayaan nasional lama hingga ke zaman modern dan ke depan sangat penting untuk mendasari senia-hgat Indonesia sebagai bangsa dan negara.

 

Sayangnya, menonton DVD uii saya kembali merenungkan nasib naskah, misahiya naskah Perjan­jian Bongaya, yang sekarang su­dah dalam keadaan akan rusak. I Pelestarian naskah dan tradisi lisan sangat penting dan sampai sekarang sayangnya masih me­rupakan hal yang tidak cukup dipahami para pembesar di In- | donesia. Tentu saja apa yang ditulis dalam buku kecil ini merupakan satu versi dan satu interpretasi sejarah Indonesia pada zaman kolonial. Tentu saja interpretasi yang lain juga ada Kendatipun demikian, buku dan DVD ini me­rupakan alat untuk kembali me-mildrkan dan mengilhami kebu­dayaan dan sejarah Indonesia Semoga proyek ini akan disusul oleh proyek sejenis lain yan'g akan memberi gambaran baru tentang apa yang sebenarnya me­rupakan sejarah dan kebudayaan Indonesia