Has no content to show!

Hubungan Rawan antara Agama dan Demokrasi

01 April 2015
Irfan Abubakar, pimpinan mitra proyek KAS, CSRC dari Universitas Islam Negeri (UIN), menyambut wakil ketua Konrad-Adenauer-Stiftung, Bapak Ketua Parlemen Jerman Prof. Dr. Norbert Lammert MdB.

Ketua parlemen Jerman Prof. Dr. Norbert Lammert mengunjungi sebuah proyek pelatihan untuk guru-guru pesantren Indonesia.

Presiden parlemen Jerman yang juga merupakan wakil ketua Konrad-Adenauer-Stiftung, ikut serta dalam workshop penutupan dan memuji kerjasama antara yayasan KAS dan Center for the Study of Religion and Culture (CSRC) dalam mendukung dan mengembangkan Islam yang moderat, yang sejak bulan Januari 2015 terus dilanjutkan dalam rangka proyek „Pesantren for Peace“ yang ikut didanai oleh Uni Eropa.

Dari tanggal 30 Maret hingga 1 April 2015, Prof. Dr. Norbert Lammert MdB, ketua parlemen Jerman serta wakil ketua Konrad-Adenauer-Stiftung mengunjungi Indonesia, negara Muslim terbesar di dunia. Pada tanggal 31 Maret ia bertemu dengan sejumlah guru-guru pesantren dan mendapatkan penjelasan mengenai proyek KAS terbesar di Indonesia. Masih banyak orang Indonesia yang mengenyam pendidikan sekolahnya di pesantren, di mana mereka tidak hanya mendalami mata pelajaran non agama namun juga isi dari tulisan-tulisan Islam. Dengan demikian pesantren-pesantren ini memiliki peranan besar dalam membentuk pengertian agama serta pengetahuan umum di negara ini. Kegiatan pada tanggal 31 Maret ini menandakan akhir dari kooperasi yang sudah berlangsung beberapa tahun antara KAS dengan Center for the Study of Religion and Culture (CSRC) dari Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta, yang sejak tahun 2008 secara aktif mendukung dan mengembangkan Islam moderat serta pengertian akan perjalanan yang beriring antara Islam dan demokrasi di sekitar 1000 pesantren. Di tahun 2015, kerjasama dengan CSRC ini beralih kepada proyek yang antara lain didanai oleh Uni Eropa, yaitu proyek „Pesantren for Peace“.

Dalam dua tahun terakhir, guru-guru yang disebut di atas telah diberikan pelatihan sebagai multiplikator HAM di pesantren-pesantren tempat mereka masing-masing mengajar. Pada bagian akhir dari workshop alumni ini, dalam jabatannya sebagai wakil ketua KAS, ketua parlemen Jerman menyatakan kesediaannya untuk menekankan pentingnya peran agama dan pengertian moderat dalam masyarakat moderen.

Dalam pidato penutupannya di auditorium UIN yang dipenuhi oleh para undangan, Prof. Dr. Lammert terutama menekankan potensi hubungan yang berkonflik antara politik dan agama. Agama telah dan masih memiliki makna yang dalam bagi perkembangan negara-negara dan juga sangat berperan dalam penjabaran HAM. Namun demikian, keyakinan beragama perlu dipisahkan dengan jelas dari politik. Ia menyampaikan, bahwa Jerman dan Indonesia merupakan contoh-contoh positif dalam hal hubungan antara agama dan politik. Dengan latar belakang inilah kerjasama antara KAS dan CSRC membuat keselarasan antara agama dan demokrasi menjadi mungkin. Prof. Dr. Norbert Lammert menekankan karakter percontohan yang baik dari proyek ini dan berharap akan ada program-program yang serupa di negara-negara lain.
sumber: kas

We use cookies to improve our website. Cookies used for the essential operation of this site have already been set. For more information visit our Cookie policy. I accept cookies from this site. Agree