Has no content to show!

Pengemis dan Filantropi Islam

08 September 2009 K2_ITEM_AUTHOR  Sholehudin A Aziz MA

Jeritan demi jeritan derita rakyat tak pernah menyentuh hati nurani para pemimpin untuk memperbaiki nasib rakyat. Belum lagi spiral krisis kini semakin tak berujung dan belum ada titik terang untuk keluar darinya. Keterpurukan ini dilengkapi lagi dengan keserakahan di mana semakin banyak orang-orang yang mendapatkan harta dari cara-cara tak halal dan menghalalkan segala cara. Dalam situasi inilah filantropi bisa mengambil peran yang cukup signifikan dalam membantu pemerintah mengatasi problem kemiskinan dan segala bentuk keterpurukan ini.

Berdasarkan hasil riset yang dilakukan oleh CSRC UIN Jakarta dana filantropi yang disumbangkan oleh masyarakat Muslim Indonesia mencapai angka 19,3 triliun per tahun. Namun, dana itu ternyata tidak mampu digunakan untuk mengentaskan masalah kemiskinan. Alih-alih justru menciptakan ketergantungan dan melestarikan kemiskinan itu sendiri. Bahkan, aset wakaf yang bernilai 590 triliun ternyata 80% hanya digunakan untuk masjid dan pekuburan.

Melihat realitas di atas menurut terdapat beberapa akar masalah mendasar yang menyebabkannya dan solusi yang harus diambilnya. Pertama, pemahaman masyarakat terhadap filantropi masih tradisional dan berorientasi karitatif. Penelitian CSRC telah mengkonfirmasi bahwa 90% lebih dana zakat dan sedekah diberikan secara langsung kepada penerima (mustahik). Di mana sebagian besar diperuntukkan bagi tujuan-tujuan konsumtif dan berjangka pendek.

Ke depan filantropi Islam harus berorientasi produktif. Seluruh dana yang diperoleh baik dari aset zakat, infaq, sedekah, dan wakaf harus mampu dikelola dan disalurkan dengan baik sehingga tidak habis begitu saja. Pemberian kredit modal kerja bagi para pedagang kaki lima misalnya dapat dijadikan contoh terbaik penggunaan dana-dana filantropi ini. Semua itu dilakukan demi menciptakan lapangan-lapangan pekerjaan baru sehingga ke depan angka pengangguran dapat ditekan dan akhirnya mampu mengurangi angka kemiskinan itu sendiri.

Berdasarkan hasil riset yang dilakukan oleh CSRC UIN Jakarta dana filantropi yang disumbangkan oleh masyarakat Muslim Indonesia mencapai angka 19,3 triliun per tahun. Namun, dana itu ternyata tidak mampu digunakan untuk mengentaskan masalah kemiskinan. Alih-alih justru menciptakan ketergantungan dan melestarikan kemiskinan itu sendiri. Bahkan, aset wakaf yang bernilai 590 triliun ternyata 80% hanya digunakan untuk masjid dan pekuburan.

Sholehudin A Aziz, peneliti CSRC UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Kedua, lemahnya sinergi antara lembaga-lembaga filantropi yang ada (Lembaga Amil Zakat atau LAZ/Badan Amil Zakat atau BAZ). Selama ini lembaga-lembaga tersebut seperti Dompet Dhuafa (DD), Pos Keadilan peduli Umat (PKPU), Rumah Zakat, Tabung Wakaf, LAZ, dan BAZ berjalan sendiri-sendiri tanpa koordinasi sedikit pun.

Kita bisa bayangkan jika seluruh lembaga filantropi di tanah air ini bersatu dan bersinergi dalam bentuk program pengumpulan dan penyaluran dengan menetapkan skala prioritas bersama. Sungguh akan prestisius dan menakjubkan dampak yang akan diterima masyarakat.

Semoga filantropi Iskam ini secara perlahan namun pasti terus hadir dan bergerak menuju filantropi yang benar-benar membebaskan kemiskinan demi pencapaian keadilan sosial. Jika beberapa poin diatas dapat direalisasikan dengan baik diyakini betul filantropi Islam dapat dijadikan jalan lain dalam rangka mengentaskan kemiskinan untuk keadilan sosial. Akhirnya kemiskinan dan keterpurukan akan mulai meninggalkan kita menuju kesejahteraan dan kemakmuran. Amien.

Sholehudin A Aziz MA
Jl Al-Ikhlas 6 Bumi Sawangan Indah 2 Depok
This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.
081310758534
Penulis adalah peneliti CSRC UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

sumber: detiknews

We use cookies to improve our website. Cookies used for the essential operation of this site have already been set. For more information visit our Cookie policy. I accept cookies from this site. Agree