Has no content to show!

Workshop Intervensi Program Pendidikan Berperspektif Perdamaian di Ambon

16 May 2012

Beberapa tahun terakhir Ambon sekilas terlihat damai dan rukun, namun potensi konflik ternyata masih ada. Kerusuhan Ambon 11 September 2011 dan pawai obor Pattimura yang berakhir bentrok pada 15 Mei 2012 adalah bukti bahwa kepercayaan antar kelompok belum tumbuh sempurna di kalangan masyarakat. Meskipun telah ada Perjanjian Malino II pada 13 Februari 2002, namun trauma dan rasa saling tidak percaya akibat konflik 1999-2001 masih meninggalkan sisa.

Penguatan identitas etnis dan keagamaan sangat tampak selama konflik Ambon. Penggunaan rumah ibadah sebagai tempat berlindung menjadi salah satu buktinya.� Kelompok Muslim menggunakan Masjid Al-Fatah sebagai basis Muslim dan sebaliknya kelompok Kristen menggunakan Gereja Maranatha sebagai basis Kristen. Selain itu, isu etnis sebagai pemicu ketidak seimbangan ekonomi juga menyeruak muncul sebagai penyebab konflik, sehingga pasca konflik penguatan identitas kesukuan juga turut menguat. Sampai kini penguatan identitas etnis dan agama masih terus berlangsung. Buktinya, segregasi tempat tinggal dan beberapa ruang publik pasca konflik terjadi, walaupun sebagian ruang publik, seperti pasar dan sekolah, sudah mulai mencair.

Damai bukanlah tiadanya konflik, tetapi damai sesungguhnya adalah damai yang dinamis, partisipatif, dan berjangka panjang. Mengutip Albert Einstein, damai mensyaratkan keadilan, penegakan hukum dan ketertiban. Pembangunan perdamaian hendaknya diarahkan pada transformasi relasi sosial yang konstruktif yang membuka tidak hanya komunikasi tetapi juga kerja sama sehingga akan terwujud kohesi sosial.

Masyarakat Ambon saat ini belum mencapai level integrasi sosial yang kuat. Integrasi sosial mengharuskan tidak adanya kekerasan komunal, adanya organisasi dan asosiasi lintas kelompok, dan adanya kemauan masyarakat menjadikan dialog sebagai jalan keluar. Menurut Varshney, kota yang damai mensyaratkan adanya keterlibatan semua warga dalam kegiatan kewargaan (civic engagement). Civic engagement dalam rangka mencapai integrasi sosial memerlukan media berkumpul seperti organisasi, asosiasi, kelompok kewargaan, maupun organiasasi seni, olahraga, dan hobi, yang keanggotaannya lintas iman. Selain itu, tinggi rendahnya integrasi sosial dapat pula dilihat dari seberapa besar kesadaran warga untuk menggunakan dialog dan mengklarifikasi jika muncul potensi konflik.

Salah satu pendekatan bina damai yang penting adalah pendidikan, yaitu melalui pendidikan berperspektif perdamaian. Pendekatan menjadi penting karena ia dapat membentuk kesadaran generasi muda dalam membangun kepercayaan, mengurangi rasa saling curiga, membuka ruang publik agar terbangun komunikasi dan kerjasama intensif antara kelompok-kelompok lintas agama dan etnis. Nilai-nilai tersebut apabila berhasil disemai dapat diharapkan menjadi platform bersama untuk mengurangi kekerasan antar kelompok dan membangun perdamaian di Ambon dalam jangka panjang.


Sebagai bentuk respon kepedulian terhadap proses pembangunan perdamaian yang terjadi di Ambon, CSRC UIN Syarif Hidayatullah Jakarta bekerja sama dengan The Asia Foundation telah melakukan intervensi program pendidikan berperspektif perdamaian. Intervensi program ini merupakan hasil dari proses Needs Assessment Program Bina Damai di Ambon yang telah dilaksanakan pada Agustus hingga September 2013. Intervensi program menggunakan bentuk workshop yang diselenggarakan sebanyak empat kali. Model workshop diharapkan dapat membangun kesepahaman tentang visi, misi, serta pengelolaan pendidikan berperspektif perdamaian. Untuk mencapai hasil yang maksimal, workshop dilakukan dengan metode yang partisipatif dan berorientasi bottom up sehingga hasilnya akan akan lebih mengakar dan dipahami dengan lebih baik.

Workshop diselenggarakan selama empat kali tahapan, yaitu Workshop Format Ideal Pendidikan Perdamaian di Ambon, Workshop Integrasi Nilai-nilai Perdamaian ke dalam Sistem Pembelajaran Sekolah, Workshop Strategi Pembelajaran Nilai-nilai Perdamaian di Ambon, dan Workshop Advokasi Pendidikan Perdamaian di Ambon.

Dua workshop pertama telah terselenggara pada 1620 Juni 2014 di Ambon yang diikuti oleh 40 orang guru. Workshop tersebut menghasilkan format pendidikan yang paling mungkin bisa terlaksana adalah dengan mengintegrasikan nilai-nilai perdamaian ke dalam materi dan proses pembelajaran sekaligus disempurnakan dengan pembudayaan sekolah (school culture). Oleh karena itu pendidikan perdamaian sendiri bukanlah pelajaran khusus, namun merupakan materi yang diintegrasikan dengan mata pelajaran yang ada. Para pengampu pendidikan perdamaian harus kreatif menginisiasi pola pendidikan ini seperti dalam kegiatan kurikuler, ekstrakurikuler, dan kegiatan kreatif lainnya yang mendorong peran aktif siswa.


Workshop tahap ketiga diselenggarakan pada 1921 Agustus 2014 di Swiss-Belhotel Ambon dan melibatkan 40 guru yang berasal dari Ambon dan sekitarnya. Workshop ini lebih menitik beratkan praktik pembelajaran pendidikan perdamaian dengan mengajak para guru untuk langsung mempraktikkannya dalam bentuk micro-teaching. Workshop terdiri dari dua kategori sesi, yaitu sesi seminar dan sesi diskusi kelompok. Pada sesi seminar melibatkan dua narasumber yang kompeten, yaitu Yudhi Munadi dari UIN Syarif Hidayatullah Jakarta yang menyampaikan materi Strategi Pembelajaran Berbantuan Media dan Pdt. Jacky Manuputty yang berfokus pada materi Komunikasi Efektif dalam Pembelajaran Nilai-nilai Perdamaian. Pdt. Jacky Manuputty mengajak para peserta untuk memahami bagaimana menciptakan dan menguasai teknik komunikasi yang efektif dalam pembelajaran khususnya nilai-nilai perdamaian, sementara Yudhi Munadi membawa para peserta agar mampu memanfaatkan media untuk pembelajaran nilai-nilai perdamaian. Sebagai apresiasi kepada peserta, Yudhi Munadi memberikan buku karyanya sendiri yang berjudul Media Pembelajaran kepada 5 peserta teraktif di masing-masing kelompok.


Workhsop keempat diselenggarakan pada 22-23 Agustus 2014 di Swiss-Belhotel Ambon, berfokus pada advokasi pendidikan perdamaian dengan tujuan untuk menemukan kesepahaman dalam mengimplementasikan pendidikan perdamaian di sekolah serta merumuskan langkah-langkah strategis untuk implementasi pendidikan perdamaian di sekolah. Hasilnya, para peserta yang terdiri dari 20 orang yang merupakan tokoh masyarakat, agamawan, kementerian agama provinsi Maluku, kepala sekolah, yayasan pendidikan, guru, LSM, dan media, sepakat untuk memahami arti penting pendidikan perdamaian di Ambon (atau dalam skala lebih luas lagi Maluku). Maka mereka bersemangat untuk membentuk Aliansi Masyarakat Peduli Pendidikan Perdamaian di Maluku yang secara bersama-sama dideklarasikan di Ambon pada 21 Agustus 2014. Aliansi ini berada di bawah koordinasi Abidin Wakano dengan 3 ketua, yaitu Theo Latumahina, Embong Salampessy, dan Heny L. Likliwatil.

Ke depan, aliansi ini akan terus mengadakan konsolidasi khususnya dengan para stakeholders demi terlaksananya konsep pendidikan perdamaian yang integratif ini. Dalam jangka pendek mereka berkomitmen untuk memperkenalkan konsep ini sekaligus mensosialisasikan aliansi yang telah terbentuk kepada masyarakat luas. Harapannya, ke depan pemerintah dan DPRD dapat mengeluarkan peraturan daerah yang dapat menjadi payung bagi terimplementasinya pendidikan perdamaian.

We use cookies to improve our website. Cookies used for the essential operation of this site have already been set. For more information visit our Cookie policy. I accept cookies from this site. Agree