Sukses Training Agama dan HAM di Solo
Untuk kesekian kalinya, CSRC UIN Jakarta bekerjasama dengan Konrad Adenaeur Stiftung (KAS) Jakarta kembali sukses melaksanakan kegiatan “Training Agama dan HAM di Kalangan Aktivis Muda Muslim” yang kali ini dilaksanakan di Solo (Surakarta).
Pelatihan ini berlangsung dari tanggal 24-26 Maret 2010 di hotel Best Western Premiere, Solo bekerjasama dengan Pusat Studi Agama dan Perdamaian, STAIN Surakarta.
Peserta pelatihan ini adalah 26 orang ustadz-ustadzah, dan kyai dari pesantren di wekitar wilayah Surakarta dan Yogyakarta. Sementara untuk trainers nya adalah tim trainers dari CSRC UIN Jakarta yang terdiri dari Sukron Kamil, Amelia Fauzia, Ridwan al-Makassary, dan Idris Hemay.
Menurut Sholehudin A. Aziz, Koordinator pelatihan ini, Kegiatan ini ditujukan untuk menambah wawasan dan membangun kesadaran para aktivis muda Muslim terutama kalangan ustadz-ustadzah pesantren tentang pentingnya nilai-nilai HAM sebagai perspektif dalam setiap tindakan dan kebijakan yang akan diambil di tengah-tengah masyarakat.
Secara keseluruhan, legiatan pelatihan ini berjalan sukses dan lancar. Seluruh agenda pelatihan tersajikan dengan baik oleh para Ttrainers, begitu pula dengan antusiasme peserta yang sangat aktif selama pelatihan.
Selama berlangsungnya sesi pelatihan terekam dengan jelas bagaimana para peserta begitu awam dengan istilah HAM dan memiliki pandangan-pandangan “miring” tentangnya. Sebagian mereka masih curiga bahwa HAM adalah produk Barat semata yang mengenyampingkan nilai-nilai Islam.
Namun berkat metode partisipatif yang panitia terapkan, kegelisahan dan mis-understanding tentang HAM yang sesungguhnya dapat dijawab oleh mereka sendiri. Awalnya mereka begitu apriori dan tidak sepakat terhadap beberapa prinsip HAM, namun akhirnya mereka dapat menerima dan memahaminya (secara sadar) dengan baik. Bahkan sejumlah peserta mengusulkan agar kegiatan pelatihan ini bisa dilaksanakan secara berkala di lingkungan pesantren dan mereka siap memfasilitasinya.
Keinginan kuat ini terangkum dalam Rencana Tindak Lanjut (RTL) yang mereka rancang sendiri demi membantu terciptanya suasana damai di masyarakat. Diakui sendiri oleh peserta bahwa Solo (saat ini) cukup banyak disorot banyak kalangan terkait banyaknya peristiwa kekerasan yang terjadi. Hal ini mengilhami peserta untuk terus belajar dan menjadikan HAM sebagai salah satu landasan berfikir, berbuat dan membuat keputusan demi menghadirkan tatanan kehidupan masyarakat yang harmonis dan damai.
Mereka yakin bahwa nilai-nilai HAM sangat sejalan dengan nilai-nilai Islam yang memang mengajarkan kebaikan, keadilan dan Jauh dari kekerasan. Semua ini harus dilakukan demi terciptanya Islam yang benar-benar rahmatan lil-alamin.