Pelatihan Agama dan HAM di Samarinda Berjalan Sukses
Untuk kesekian kalinya, CSRC UIN Jakarta bekerjasama dengan Konrad Adenaeur Stiftung (KAS) Jakarta kembali sukses melaksanakan kegiatan “Training Agama dan HAM di Kalangan Aktivis Muda Muslim” di Samarinda, Kalimantan Timur.
Pelatihan ini berlangsung dari tanggal 18-20 November 2009 di hotel Mesra, Samarinda bekerjasama dengan Rabithah Ma’ahid Islamiyah (RMI) Kalimantan Timur.
Peserta pelatihan ini adalah 25 orang ustadz-ustadzah dari pesantren yang ada di sekitar Samarinda. Sementara untuk trainers nya adalah tim trainers dari CSRC UIN Jakarta yang terdiri dari Irfan Abubakar, Karlina Helmanita, Ridwan al-Makassary, dan Idris Hemay.
Menurut Sholehudin A. Aziz, Koordinator pelatihan ini, Kegiatan ini ditujukan untuk menambah wawasan dan membangun kesadaran para aktivis muda Muslim terutama kalangan ustadz-ustadzah pesantren tentang pentingnya nilai-nilai HAM sebagai perspektif dalam setiap tindakan dan kebijakan yang akan diambil di tengah-tengah masyarakat.
Pelatihan kali ini bisa dibilang sangat “menantang” karena komposisi peserta begitu beragam. Mereka terdiri dari berbagai pesantren salafiyah dan modern di sekitar Samarinda yang memiliki pemahaman yang beragam pula. Aliran pemahaman peserta yang cenderung konservatif dan radikal sangat mewarnai pelatihan ini.
Selama berlangsungnya sesi pealtihan terekam dengan jelas bagaimana para peserta begitu awam dengan istilah HAM dan pandangan-pandangan “miring” tentangnya. Sebagian mereka masih curiga bahwa HAM adalah produk Barat semata yang mengenyampingkan nilai-nilai Islam.
Namun berkat metode partisipatif yang panitia terapkan, kegelisahan dan mis-understanding tentang makna HAM yang sesungguhnya dapat dijawab oleh mereka sendiri.
Dalam sessi sambutan di awal pelatihan, KH. Fakhruddin Wahab, selaku ketua Rabithah Ma’ahid Islamiyah (RMI) Kalimantan Timur, menyatakan bahwa HAM merupakan nilai-nilai universal kemanusiaan dan relasi sosial yang dilahirkan dari sejarah peradaban manusia di seluruh penjuru dunia. Lintas wilayah, etnis, bahkan agama sekalipun.
Ajaran Islam pada hakekatnya sangat menjunjung tinggi nilai-nilai HAM. Teladan Rasulullah dalam banyak hal misalnya seperti Itqu Raqabah jelas-jelas sangat menghargai nilai-nilai HAM yang melekat pada setiap individu. Demikian disampaikan oleh Irfan Abubakar dalam sambutannya mewakili direktur CSRC dalam acara tersebut.
Hadirnya pelatihan-pelatihan semacam ini begitu dibutuhkan para ustadz-ustadzah di kalangan pesantren. Merekalah ujung tombak sosialisasi nilai-nilai yang sesungguhnya karena posisi strategis mereka. Mereka bukan saja pengajar di pesantren tetapi juga da’i di kampung atau masyarakat sekitarnya.
Hal ini mengingat rendah tingginya derajat pengetahuan mereka terhadap HAM dipastikan akan berdampak signifikan kepada sikap, perilaku, dan segala bentuk aktifitas serta kebijakan yang dijalankannya di tengah-tengah masyarakat.
Sikap masyarakat dan kebijakan publik yang tidak dilandasi nilai-nilai HAM akhirnya cenderung melahirkan aksi kekerasan, pemaksaan kehendak, intoleransi, dan konflik berkepanjangan.
Di sessi penutupan, terlihat jelas, para peserta begitu terkesan dan terharu dengan adanya pelatihan ini dan banyak mengharap pelatihan seperti ini dapat terus dilakukan demi terciptanya suasana damai dan harmonis. Mereka berjanji siap untuk menjadi ujung tombak sosialiasi nilai-nilai di pesantren dan masyarakatnya masing-masing.