13/04/2007 14:21:10
Relasi Community Empowerment (Pemberdayaan Masyarakat) dengan Perdamaian
Oleh: Aang Abu Bakar Yusuf
Tulisan ini mencoba untuk mengelaborasi beberapa persoalan community empowerment dalam kaitannya dengan kesejahteraan dan perdamaian di tengah masyarakat. Selain membahas definisi, tulisan ini juga mencoba untuk membahas kerangka konseptual dan wilayah cakupan community empowerment. (Dibaca: 147) |
09/04/2007 16:12:33
Agama, Konflik, dan Etika Dialog
Oleh: Chaider S. Bamualim
Konflik antar umat beragama yang menyeruak dalam beberapa tahun belakangan telah mendorong berkembangnya dialog di tahan air secara intensif dan konstruktif. Hal ini bisa dilihat dari meningkatnya komunikasi antar tokoh-tokoh dari berbagai latar belakang agama serta tumbuh kembangnya berbagai lembaga maupun aktivitas yang mempromosikan dialog, toleransi dan pluralisme. (Dibaca: 177) |
05/04/2007 17:03:06
Belajar dari Pengalaman Pahit Intoleransi di Belanda
Oleh: Dick van der Meij
Pada 2 November 2004 negeri Belanda sempat terguncang. Pasalnya, suatu peristiwa pembunuhan yang lebih bersifat politis dan bernuansa agama terjadi hingga mampu memanaskan hubungan antaragama di negeri ini. Melalui peristiwa ini, penulis buku mengurai sejarah toleransi dan intoleransi terhadap Muslim di Belanda yang dikaitkan dengan perkembangan sosial dan politik di negeri itu. Artikel ini merupakan resensi buku "Murder in Amsterdam" yang ditulis Ian Buruma setebal 278 halaman dan diterbitkan oleh The Penguin Press, New York, 2006. (Dibaca: 132) |
27/03/2007 11:09:57
Paradigma Peace-building Pasca Konflik Kekerasan
Oleh: Irfan Abubakar
Kata "Peace-building" atau "pembangunan perdamaian" biasa dikaitkan dengan kata "konflik". Hal ini wajar-wajar saja karena secara commonsense peace-building ada karena konflik kekerasan ada. Secara sederhana Peace-building bertujuan untuk mempromosikan perdamaian dan mengikis konflik kekerasan, permusuhan, disharmoni sosial dan sebagainya. Namun dalam situasi dimana konflik sudah reda timbul pertanyaan, apakah peace-building masih relevan? (Dibaca: 172) |
23/03/2007 13:13:12
Peace Building untuk Masyarakat Indonesia Paska Konflik: suatu Kerangka Konseptual untuk Aksi
Oleh: Ridwan al-Makassary
Untuk konteks Indonesia, istilah peace building tampaknya cukup akrab di telinga para pegiat perdamaian. Namun, bagaimana memahami peace building secara holistik sebagai suatu kerangka teoritik dan praktik masih sulit dicapai. Suatu contoh, seorang peserta FGD: Need assessment for Module Development di kota Ambon menyiratkan keberatannya atas penggunaan nama peace building untuk modul perdamaian yang sedang didesain oleh CSRC UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. (Dibaca: 158) |
20/03/2007 17:17:17
Paradigma Peace-building di Indonesia Paska Konflik Kekerasan
Oleh: S. Yunanto
Jika dibandingakan dengan masa masa awal reformasi (98-2000), kuantitas konflik kekerasan di Indonesia bisa jadi menurun. Kalau harus ditunjuk satu persatu, maka saat ini sudah tidak ada semacam, Kasus Pembantaian "Dukun Santet" di Banyuwangi, Kerusuhan Mei 98, Konflik Dayak vs Madura di Sambas, Situasi di Ambon Relatif Lebih tenang, walaupun banyak orang menganggap belum aman. Situasi di Aceh juga relatif lebih Pasca Perdamaian Helsinki, Papua juga relatif tenang, walapun mencekam. Mungkin persoalan yang masih serius adalah perkembangan di Poso. (Dibaca: 169) |
07/03/2007 16:07:39
Wakaf Alternatif di Indonesia: Why Not?
Oleh: Irfan Abubakar
Wakaf merupakan salah satu institusi filantropi Islam yang bisa diandalkan menunjang agenda keadilan sosial khususnya di kalangan masyarakat Islam. Hal ini telah dibuktikan dalam sejarah filantropi Islam abad pertengahan, yang jejak keagungannya masih dapat disaksikan di negeri-negeri Muslim, seperti Turki dan Mesir. Wakaf pada masa itu bukan hanya didirikan untuk santunan fakir dan miskin atau untuk kegiatan keagamaan, melainkan hadir untuk membangun dan memelihara fasilitas umum non-keagamaan. (Dibaca: 139) |