DO'A DAN KESEHATAN MENTAL
Mungkin menurut aliran materialisme ekstrim, seperti Lamettre, Feurbach, dan Spencer, membicarakan do'a dan kesehatan mental adalah sesuatu yang tidak ada gunanya. Hal ini karena mereka melihat materilah satu-satunya realitas. Apa yang disebut ruhani hanyalah hasil dari proses kimiawi tubuh semata, sebagaimana air seni dari ginjal. Akan tetapi, bagi penulis, dan agaknya bagi banyak orang lainnya, melihat sebaliknya. Manfaat doa' terutama untuk kesehatan mental, tidak dapat diragukan. Alexis Carrel, seorang ahli bedah Prancis yang mendapat hadiah Nobel dua kali, sebagaimana dikutip Quraish Shihab, menegaskan bahwa kegunaan do'a dapat dibuktikan secara ilmiah, sama kuatnya dengan pembuktian di bidang fisika. Oliver Lodge bahkan secara halus menyindir mereka yang tidak melihat manfaat do'a; "Kekeliruan mereka karena menduga do'a berada di luar fenomena alam. Do'a harus diperhitungkan sebagaimana memperhitungkan sebab-sebab lain yang dapat melahirkan suatu peristiwa"".
Secara bahasa, do'a merupakan kata serapan dari bahasa Arab du'a, yang berarti permohonan atau permintaan kepada Tuhan. Sedangkan yang dimaksud kesehatan mental adalah terhindaranya seseoraang dari gejala-gejala gangguan jiwa dan dari gejala-gejala penyakit jiwa, sehingga ia mampu mengembangkan potensinya secara maksimal, mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan dan sosialnya, dan mampu mencapai kebahagiannya.
Dalam Islam, seperti terlihat dalam QS 2:186, do'a merupkan cara spiritual untuk mendapatkan sesuatu sebagai salah satu bentuk kepasrahannya kepada Tuhan setelah berusaha optimal. Do'a sebagaimana dijelaskan hadis Nabi merupakan jiwa ibadah, bahkan ibadah itu sendiri, yang karenanya harus menjadi bagian dari kehidupan seorang Mukmin. Salat misalnya secara bahasa artinya do'a. Dengan demikian, do'a merupakan bentuk komunikasi seseorang dengan Tuhannya, yang karena itu dalam berdo'a, mesti disertai kehadiran hati ketika melakukannya. Tanpa kehadiran hati, do'a tidak lagi bermakna dan hanya "olah raga" lidah semata.
Dari sinilah Islam mengatur etika do'a. Salah satunya adalah mesti dilaksanakan dengan sungguh-sungguh dan penuh harap, diawali dengan memuji Allah dan salawat kepada Nabi Muhammad , dikerjakan terutama setelah salat wajib, akhir malam, pada bulan Ramadhan, saat haji, dan saat sujud, serta dilakukan dengan cara menengadahkan tangan dan tidak meminta sesuatu yang tidak layak. Kecuali itu, do'a pun harus dibarengi dengan ketabahan dalam usaha. Do'a saja, sebagaimana dijelaskan QS 2:45, tanpa diberengi ketabahan dalam usaha, belum menjadi jaminan terpenuhinya harapan.
Bila do'a sebagai sarana untuk meraih yang dinginkan, lalu kemanakah do'a yang kita panjatkan kepada Allah, tetapi Allah tidak atau belum memenuhinya. Dalam hal ini, ada beberapa sebab. Mungkin soal waktu pemenuhan saja, tidak baik bagi yang berdo'a jika dipenuhi Allah, sebagai ujian kesabaran dari Allah kepada hambanya, salah berdo'a, atau sebagaimana sabda Nabi: " Pada hari kebangkitan ada orang yang terheran-heran melihat ganjaran perbuatan yang dia rasakan tidak pernah dilakukannya. Ketika itu disampaikanlah kepadanya: "Inilah do'a-do'amu di dunia yang dulu tidak dikabulkan"". Oleh karena itu, kata Abdul Qadir Jailani (1078-1167) seorang sufi besar, janganlah jemu berdoa, juga jangan menggerutu, apalagi mengutuk.
Sebagai kerja hati (spiritual manusia, maka kaitan antara do'a dengan kesehatan mental sangatlah erat. Alasannya, karena do'a merupakan pertanda ketidaksombongan seseorang kepada Allah dan kepasrahan kepadanya. Dengan begitu, maka seorang yang berdo'a akan terhindar dari penyakit sombong, sifat iblis yang membuatnya terusir dari Surga, sehingga siapa pun yang memelihara sifat itu akan dijahuhi dan dibenci Tuhan dan manusia. Berdo'a merupakan perbuataan yang, di satu sisi menunjukkan ketidakberdayaan atau kelemahan manusia dibanding Allah dalam menghadapi banyak persoalan yang melingkupinya, dan pada sisi yang lain berfungsi sebagai pengakuan akan kemahakuasaan dan kebesaran Allah. Do'a pun, karenanya, merupakan sarana di mana seseorang mengadukan semua permasalahannya kepada Allah, Sang Maha Mutlak, dengan jaminan keterjagaan rahasianya, dan Allah pun senang dengan orang yang demikian serta benci kepada orang yang sebaliknya. Pada saat di mana seseorang seperti itu, pertama, ia akan memiliki rasa hormat yang tinggi kepada orang lain, siapa pun, dan tentu saja dengan demikian mempunyai sisi kemanusian (human relatian) yang hangat. Kedua, karena ia telah menumpahkan segala persoalannya kepada Allah dan dengan begitu seolah separuh persolannya telah selesai, ia akan lebih jernih lagi melihat persoalannya dan motivasi pun akan tumbuh.
Di samping itu, do'a juga menjadikan seseorang bersikap positif thinking, tidak berburuk sangka terhadap Tuhan dan sesama manusia, tidak menggerutu, selalu memiliki harapan, percaya diri karena ia menyandarkan dirinya kepada Allah, dan ia pun yakin, dengan ketabahan dalam usaha dan do'a yang selalu dipanjatkannya kepada Allah, apa yang diinginkannnya akan terpenuhi, cepat atau lambat.
Orang yang banyak berdo'a dengan etika do'a seperti yang telah dijelaskan, dengan demikian, akan terhindar dari rasa cemas tidak menentu dan rasa panik, terhindar dari iri hati, karena dirinya selalu berusaha dan berdo'a untuk mendapatkan harapannya. Ia juga akan terhindar dari rasa sedih karena luputnya yang diidamkan, tetapi dengan baik sangkanya kepada Allah dan positif thinking terhadap realitas yang dihadapinya, ia selalu penuh harap. Ia akan terhindar dari rasa rendah diri, terhindar dari prustasi, karena andaikan tidak terpenuhi keinginannya pun, ia akan meyakini bahwa itulah yang terbaik dari Allah untuk dirinya. Ia senantiasa akan siap menunda sementara pemuasan terhadap kebutuhannya dan tentu sja tidak akan tenggelam dalam lamunan. Ia senantiasa akan mencontoh prilaku Ibrahim yang berdoa ingin mendapatkan putera/keturunan sejak usia muda perkawinanya, tetapi baru dipenuhi Allah saat tua renta.
Oleh sebab itu, orang yang banyak berdo'a dengan ketabahannya dalam usaha akan terhindar dari gangguan jiwa yang lebih parah seperti neurasthenia dan hysteria. Neurasthenia adalah penyakit payah secara mental sehingga orang yang diserangnya merasa seluruh badannya letih, tidak besemangat dan lekas merasa payah. Sedangkan hysteria adalah gangguan jiwa akibat ketidak mampuan seseoraang menghadapi kesukaran, kegelisahan, kecemasan, dan pertentangan batin, yang secara fisik bisa mengakibatkan kelumpuhan atau keram.
Sesungguhnya, jangankan dengan kesehatan mental, do'a hubungannya dengan kesehatan fisik pun amatlah erat. Hal ini bila kita percaya bahwa fisik hanya merupakan wadah bagi jiwa semata. Semuanya sesunguhnya berawal dari jiwa. Proses kesembuhan fisik lebih banyak berkaitan dengan mental atau kejiwaan. Hal ini bisa dijelaskan lewat dua hal: (1) Kepercayaan hati seorang yang sedang sakit terhadap dokter yang menangani dan resep serta obat yang diberikan akan sangat membantu proses kesembuhan fisik. Fisiknya akan tersugesti untuk sumbuh. (2) Harapannya ingin sembuh lewat doa yang dipanjatkannya serta penerimannya atas penyakit yang dideritanya akan memudahkan seorang yang sedang sakit dalam meminum obat dan proses penyembuhan lainnya, meski proses penyembuhan yang harus dijalani terasa sakit..
Lebih dari itu, sakit yang dialami akan dipandang orang yang sering berdoa sebagai sesuatu yang positif. Sakit menjadi wahana dirinya untuk mengasah rasa kemanusiaan dan spritualitasnya. Ia bukan saja mengalami jeda dari rutinitas dan diberikan ruang untuk merenung, tetapi juga membuatnya sering berkomunikasi dengan Allah lewat doa. Ia akan merasakan bahwa penolong hakiki hanyalah Allah, sementara yang lain adalah semu. Kecuali itu, rasa senangnya saat dijenguk dan dido'akan sahabatnya atau orang lain akan meningkatkan juga sisi kemanusiaannya. Wallahu'alam Bisshawab.
Penulis adalah Dosen Etika Islam UAI dan Paramadina, Peneliti Sosial Budaya CSRC UIN Jakarta