Home / Tentang Kami / Buku Tamu / Kontak Kami / Login
22/03/2010 15:04:11

Amputasi Sel-sel Teroris

Oleh: Sholehudin A. Aziz

Setelah sekian lama tenang dari pemberitaan terorisme pasca tertembaknya Noordin M Top, sang gembong teroris kelas wahid, beberapa waktu yang lalu, publik Indonesia kembali dikejutkan dengan kesuksesan Densus 88 Mabes Polri menembak mati buronan teroris kelas kakap yang dihargai 100 miliar rupiah oleh Pemerintah Amerika Serikat, Dulmatin, dan para pengawalnya di Pamulang, Tangerang Selatan.

Kondisi ini sungguh membuka mata kita bahwa panggung terorisme di Indonesia ternyata masih tetap eksis dan siap menebar ancaman setiap saat.  

Sel-sel teroris pasca tewasnya Noordin M Top ternyata bukan semakin sedikit, malah sebaliknya, yaitu semakin banyak dan mengkhawatirkan.

Yang lebih mencengangkan lagi adalah eksisnya kelompok teroris bersenjata di daerah pedalaman Aceh, tepatnya di hutan Kawasan Bayu, Lamkabeu, Kecamatan Seulimum, Aceh Besar, ketika mereka sedang melakukan pelatihan militer dalam rangka melaksanakan aksi-aksi teror selanjutnya.

Kegiatan teroris di Aceh dan Pamulang ini benar- benar membuka mata kita bahwa mereka masih tetap eksis hingga kini dan terus melakukan perekrutan anggota baru.

Sejatinya seluruh masyarakat Indonesia sangat berharap panggung “teater” terorisme di Indonesia segera dihentikan karena jelas-jelas merugikan masyarakat dan negara.

Jejak terorisme ini hendaknya secepat mungkin dihapus dari naskah kebudayaan bangsa ini. Namun, upaya ini tidaklah semudah membalikkan telapak tangan kita.  

Selsel teroris yang terus dipersempit ruang geraknya, ternyata malah semakin kuat dan terus berupaya menancapkan pengaruh ideologinya ke berbagai kalangan masyarakat, termasuk di dalamnya kaum terdidik seperti mahasiswa, pelajar, dan santri.  

Jadi, jangan heran bila kelak muncul para teroris dari berbagai kalangan yang belum pernah kita duga sebelumnya.  

Mereka terus bergerak dan merekrut anggota baru dengan berbagai cara. Yang pasti, kemampuan kelompok teroris merekrut anggotaanggota baru sangat dipicu oleh kemampuan mencuci otak (brain-washing) para anggota baru dengan ideologi-ideologi kekerasan berbalut jihad dalam meraih tujuan hidup mereka yang disertai embel-embel raihan surga.

Medan jihad yang selama ini hanya berlaku di medan peperangan digantikan oleh mereka dengan jihad melawan arogansi Barat dan antek-anteknya.

Aksi bom bunuh diri yang merenggut puluhan jiwa tak berdosa diklaim mereka sebagai jalan menuju mati syahid demi meraih surga. Sungguh mereka menafi kan ajaran Al-Quran yang cinta damai dan anti kekerasan.  

Ironisnya lagi, ideologi jihad ini ternyata cukup banyak mendapat simpati dari masyarakat atau kelompok- kelompok tertentu.

Coba tengok bagaimana para teroris diperlakukan sebagai seorang yang mati syahid, dieluk-elukkan sebagai pahlawan Islam, disambut bak martir.

Belum lagi dengan ditambahi klenik-klenik bahwa jasad seorang teroris (Dulmatin misalnya) terasa wangi sebelum masuk liang lahat sebagai tanda diterimanya sang jasad oleh- Nya dengan baik.

Bagi penulis, semua ini berlebihan dan terlalu didramatisasi karena setiap jasad yang meninggal dipastikan wangi karena sebelumnya diberikan aroma wewangian dari sejenis parfum.  

Bila ideologi yang menyimpang ini tidak secara serius diperbaiki, maka jangan harap Indonesia bisa aman, damai, dan tenteram.  

Bila masih ada klaim kebenaran yang disampaikan oleh para ulama dan ustaz atas jihad melalui bom bunuh diri dan aksi teror lainnya, maka selama itu pula terorisme tetap kekal di bumi Indonesia ini.

Bila masih ada mati syahid bagi para teroris maka jangan harap sel-sel teroris akan sirna. Untuk itu sangat dibutuhkan kampanye dan sosialisasi terpadu untuk meluruskan idiologi jihad ini kepada seluruh masyarakat melalui para tokoh-tokoh agama, ustaz, para dai, dan segenap masyarakat tak terkecuali.

Bagi penulis, berkembangnya sel-sel teroris di Indonesia disebabkan oleh mudahnya kelompok teroris menyebarkan virus idiologi radikalnya ke berbagai kalangan di masyarakat.

Target utamanya adalah seseorang yang memiliki pemahaman keaagamaan yang kurang sehingga mudah dicuci otaknya dengan idiologi terorisme berjubah agama.

Sebagai tindakan preventif mengantisipasi masifnya jejaring dan sel-sel teroris ini, maka pelurusan idiologi terorisme ini harus segera dilakukan dan disosialisasikan kepada seluruh stakeholder masyarakat.

Dengan memberikan pengetahuan dan klarifikasi nilai-nilai ajaran Islam yang sesungguhnya – yang secara jelas menolak ajaran terorisme – akan menjadi upaya paling strategis dan nyata dalam rangka mencegah berkembangnya idiologi terorisme yang secara nyata telah merusak Islam.

Klaim mereka bahwa melakukan perlawanan dengan bom bunuh diri adalah jihad paling akbar menuju kesempurnaan Islam demi menggapai surga harus diluruskan karena jelas-jelas tidak dibenarkan secara agama.

Yang pasti bahwa Islam tidak pernah menyandarkan ajarannya kepada caracara kekerasan dan apalagi harus menimbulkan korban yang tidak berdosa baik di kalangan ummat Islam sendiri maupun agama lainnya.

Penulis yakin bila seluruh umat islam benar-benar dapat memahami nilai-nilai ajaran Islam yang benar, maka sel-sel teroris akan sulit berkembang di bumi Indonesia dan bahkan bisa sirna sekalipun.

Namun, bila upaya sosialisasi ini gagal dilakukan, maka jangan kaget bila esok, generasi-generasi muda Islam akan menjadi ladang rekrutmen jaringan teroris yang sangat potensial.

Bahkan mungkin anak dan saudara-saudara terdekat kita akan menjadi martir hidup bom bunuh diri demi menggapai sorga.

Kita harus sepakat bahwa terorisme adalah perbuatan keji dan jahat, melanggar HAM, tidak sesuai dengan tuntunan Islam, dan jelas-jelas merenggut hak aman dan hidup masyarakat.

Apalagi, aksi-aksi teror ini bukan lagi bentuk kejahatan kekerasan destruktif biasa, melainkan sudah merupakan kejahatan terhadap perdamaian dan keamanan umat manusia (crimes against peace and security of mankind) yang harus kita lawan bersama.

Penulis berharap agar sel-sel teroris yang ada ataupun yang bakal ada dapat segera diamputasi sehingga bangsa ini tak lagi dicap sebagai rimba terorisme yang tak pernah berhenti melahirkan aktor teroris baru.

Kita berharap bangsa ini tersenyum kembali dengan terciptanya keamanan dan suasana kondusif demi citra, harkat, dan martabat bangsa. Semoga

Artikel ini dimuat di rubrik “Gagasan”, Koran Jakata, Senin, 22 Maret 2010